Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf

Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf – Perjalanan Terakhir

Diposting pada

Hasiltani.id – Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf – Perjalanan Terakhir. Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf adalah suatu peristiwa yang menjadi sorotan dan duka mendalam bagi umat Islam, terutama di kalangan pengikut dan penganut ajaran Islam di Hadramaut dan sekitarnya.

Beliau adalah sosok ulama yang sangat dihormati dan dicintai karena ilmu, amal, dan keteladanan dalam beribadah dan akhlaknya yang luhur.

Artikel ini akan mengulas lebih lanjut tentang perjalanan hidup dan kontribusi beliau, serta momen bersejarah saat wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf dalam kondisi yang sangat berarti.

Mari kita lebih mendalam mengenali perjalanan hidup dan warisan spiritual dari Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf.

Mengenal Biografi Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf

Sebelum membahas mengenai kisah wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf, simak biografi Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf terlebih dahulu.

Habib Abdul Qodir bin Ahmad bin Abdurrahman Assegaf dilahirkan di kota Sewun, Hadramaut, pada bulan Jumadil Akhir tahun 1331 H. Kelahirannya merupakan berkah dari orang tua yang saleh, yang telah mendidiknya sejak kecil dengan penuh hidayah dan ketakwaan.

Ayahnya, Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, adalah seorang imam yang dikenal dengan akhlak yang indah, ilmu yang luas, dan amal yang saleh. Al-Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi pernah menggambarkan bahwa Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman adalah Imam Wadil Ahqof (Hadramaut), sebuah penghargaan untuk kecemerlangan spiritual dan pengetahuannya.

Ibu Habib Abdul Qodir adalah As-Syarifah Alawiyah binti Al-Habib Ahmad bin Muhammad Aljufri. Ia merupakan seorang wanita shalihah yang mencintai kebajikan.

Ketika ibu Habib Abdul Qodir sedang mengandung dan melahirkan bayi laki-laki pertama, bayi tersebut diberi nama Abdul Qodir atas isyarat dari Al-Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Sayangnya, bayi tersebut meninggal dunia tidak lama setelah kelahirannya.

Ketika As-Syarifah Alawiyah melahirkan bayi laki-laki kedua, Al-Habib Ali kembali mengisyaratkan agar bayi itu diberi nama Abdul Qodir.

Beliau yakin bahwa anak ini akan menjadi sosok mulia yang akan mengabdikan hidupnya untuk taat kepada Allah, serta menjadi seorang yang dicirikan oleh ilmu, amal, dan ihsan.

Tragisnya, As-Syarifah Alawiyah meninggal dunia pada tanggal 29 Rajab 1378 H, yang sama dengan hari wafatnya Al-Habib Salim bin Hafidh Bin Syekh Abubakar bin Salim (kakek dari Al-Habib Umar Bin Hafidh).

Baca Juga :  Dampak Positif Tinggal di Desa yang Penuh dengan Kearifan Lokal

Sementara ayah Habib Abdul Qodir, Al-Habib Ahmad, meninggal dunia pada sore hari Sabtu, tanggal 4 Muharram 1357 H, setelah menunaikan shalat Asar, ketika usianya mencapai 79 tahun.

Pada saat itu, Al-Habib Abdul Qodir baru berusia 25 tahun, dan ia telah kehilangan kedua orangtuanya yang sangat disayanginya.

Pendidikan Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf

Dalam pembahasan kisah Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf, setelah membahas mengenai biografinya, Hasiltani juga membahas pendidikan Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf.

Sejak usia dini, Habib Abdul Qodir bin Ahmad bin Abdurrahman Assegaf tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang kaya akan ilmu pengetahuan, ibadah, dan akhlak yang tinggi.

Lingkungan ini tidak hanya ditanamkan oleh orang tuanya, tetapi juga dicontohkan oleh ayahnya yang saleh, Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assaqaf. Hal ini mencerminkan kondisi umum keluarga-keluarga Alawiyin di Hadramaut pada masa itu.

Keadaan seperti ini menciptakan kondisi yang sangat mendukung para orang tua untuk mendidik kader-kader ulama dan orang-orang baik, karena anak-anak di sana, selain mendapat didikan dari orang tua, juga terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.

Mereka tumbuh dengan keikhlasan dan kebersihan hati, tidak terpengaruh oleh budaya dan pemikiran yang datang dari luar.

Setiap anak meniru budi pekerti ayahnya, dan ayah meniru kakeknya, dan seterusnya, sehingga warisan spiritual mereka dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ketika Habib Abdul Qodir sudah cukup usia dan menunjukkan ketulusan niatnya dalam mengejar ilmu, ia mulai mengejar pendidikan di luar rumah, setelah sebelumnya hanya belajar bersama ayahnya.

Pendidikan pertamanya dilakukan di “Ulmah Thoha,” sebuah pendidikan yang berlokasi di Masjid Toha yang didirikan oleh datuknya, Al-Habib Thoha bin Umar Assaqof, di kota Sewun. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan As-Syaikh Thoha bin Abdullah Bahmed.

‘Ulmah Thoha adalah sebuah lembaga pendidikan sederhana yang didasarkan pada takwa dan ridha Allah. Tempat ini telah mencetak banyak tokoh ulama besar pada zamannya.

Di ‘Ulmah Thoha, Habib Abdul Qodir dan rekan-rekannya belajar dengan tekun tentang ilmu qowaidul kitabah, qiroah, dan lainnya, yang memperkuat dasar-dasar pengetahuan mereka dan keterampilan berbicara mereka.

Setelah beberapa waktu, Habib Abdul Qodir keluar dari ‘Ulmah Thoha dan meluangkan waktunya untuk belajar lebih banyak bersama ayahnya. Hal ini tercermin dalam perkembangan mulia dalam dirinya.

Baca Juga :  Teknologi Pertanian Jepang

Kemudian, atas perintah ayahnya, ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah An-Nahdhoh Al-‘Ilmiyah di kota Sewun.

Di madrasah ini, Habib Abdul Qodir mendalami berbagai ilmu, seperti Fiqih, Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, Sastra Arab, Tarikh, dan Tahfid Al-Quran.

Madrasah ini berfokus pada tazkiah (pensucian), tarbiyah (pendidikan), dan tarqiyah (pemuliaan budi pekerti). Kepala Sekolahnya saat itu adalah As-Syaikh Al-Adib Ali Ahmad Baktsir.

As-Syaikh Ali selalu memantau perkembangan murid-muridnya dan memberikan pelajaran tambahan kepada murid yang memiliki kecerdasan dan potensi di rumahnya.

Habib Abdul Qodir juga mempelajari ilmu Qiroatus Sab’ah dengan As-Syaikh Hasan Abdullah Baraja’, yang kembali dari Makkah setelah memperdalam ilmu Qiroatul Qur’an.

Meskipun ia memperoleh berbagai ilmu dari madrasah tersebut, peran besar ayahnya, Al-Habib Ahmad, dalam pembentukan dirinya tidak dapat diabaikan.

Habib Abdul Qodir bahkan mengungkapkan bahwa apa yang ia dapatkan dari ayahnya jauh lebih berharga daripada apa yang dia pelajari di madrasah.

Setiap hari, dalam satu atau dua sesi bersama ayahnya, dia bisa menyelesaikan satu kitab. Dengan begitu, waktu yang diberikan Allah padanya menjadi sangat berharga.

Dalam waktu yang relatif singkat, dia menjadi seorang yang memiliki pengetahuan yang luas dan budi pekerti yang mulia.

Kisah Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf

Dalam kisah wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf, seorang tokoh agama yang dihormati, meninggal dunia pada hari Jum’at ketika sedang menjadi imam dalam Sholat Jum’at.

Kejadian ini terjadi pada saat sujud terakhir dalam shalat tersebut, menciptakan momen yang sangat berkesan bagi jamaah yang hadir.

Shaf pertama di masjid saat itu penuh sesak oleh para jamaah yang ingin mengikuti shalat Jum’at. Dalam situasi tersebut, Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf memberikan isyarat kepada Habib Najib bin Thoha Assegaf agar maju ke shaf pertama bersamanya.

Namun, saat Habib Najib bin Thoha melihat shaf pertama yang sudah penuh sesak, dia memberikan tanggapannya dengan hormat, “Shaf pertama telah penuh, wahai Habib.”

Mendengar respons ini, Habib Abdul Qadir dengan penuh kewibawaan menjawab, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!”

Kata-katanya mendorong Habib Najib bin Thoha untuk dengan spontan maju ke shaf pertama, meskipun harus memaksakan diri untuk masuk ke dalam shaf yang telah penuh sesak.

Kemudian, shalat Jum’at dimulai dengan takbiratul ihram. Habib Abdul Qadir membaca surat Al-Fatihah dengan khidmat, diikuti dengan bacaan surat lainnya sambil menangis.

Baca Juga :  Cara dan Manfaat Minum Minyak Zaitun Sebelum Tidur

Pada rakaat kedua, saat sujud terakhir, Habib Abdul Qadir tidak bangkit dari sujudnya, dan suara nafasnya terdengar melalui speaker masjid.

Karena sujud itu sudah berlangsung cukup lama, Habib Najib bin Thoha dengan berani mengambil langkah untuk menggantikan posisi imam.

Akhirnya, dengan mengucapkan takbiratul ihram, shalat Jum’at selesai. Para jamaah yang hadir dengan panik berhamburan ke depan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Habib Abdul Qadir.

Mereka menemukan Habib Abdul Qadir masih dalam posisi sujud yang tak bergerak. Dengan hati yang bergetar, mereka membalik tubuh yang bersujud tersebut, dan terlihatlah wajah Al-Habib Abdul Qadir Assegaf.

MasyaAllah, setiap orang yang melihat wajahnya, tanpa terkecuali, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah Habib Abdul Qadir tersenyum dengan jelas, tersenyum bahagia. Habib Abdul Qadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang paling terindah.

Beliau wafat saat sedang melakukan ibadah yang paling agung, yaitu shalat, dalam kondisi yang sangat penting, yaitu shalat berjamaah, dan dalam shalat yang memiliki makna besar, yaitu shalat Jum’at.

Ini terjadi saat beliau sedang melaksanakan salah satu rukun shalat yang sangat penting, yaitu sujud, sebagai imam dalam masjid yang sangat berarti, di hari yang sangat istimewa, yaitu hari Jum’at.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf.

wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf meninggalkan duka yang mendalam bagi banyak orang yang mengenalnya.

Namun, kita juga patut merayakan hidupnya yang penuh berkah dan kontribusi yang tak terlupakan dalam perjuangan untuk kebaikan dan kebenaran.

Beliau adalah teladan yang memimpin dengan ilmu, amal, dan akhlak yang tulus, dan warisannya akan tetap berlanjut melalui generasi-generasi yang akan datang.

Semoga Allah merahmati Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf dan menjadikannya sebagai inspirasi bagi kita semua untuk mengejar ilmu, beramal saleh, dan mengabdi kepada Allah dengan tulus.

Wafatnya beliau adalah pengingat akan sementara dunia ini, namun warisannya akan kekal dalam hati dan jiwa yang mencintai kebenaran.

Terima kasih telah membaca artikel Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf ini, semoga informasi mengenai Wafatnya Habib Abdul Qodir Bin Abdurrahman Assegaf ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *