Tongkat milik Abah Guru Sekumpul

Cerita Tongkat milik Abah Guru Sekumpul oleh Abah Haji (KH. Ahmad Zuhdianoor)

Diposting pada

Hasiltani.id – Cerita Tongkat milik Abah Guru Sekumpul oleh Abah Haji (KH. Ahmad Zuhdianoor). Tongkat milik Abah Guru Sekumpul adalah salah satu benda yang menjadi ikon spiritual dan keagungan di kalangan masyarakat Kalimantan.

Benda ini bukan sekadar sepotong kayu atau tongkat biasa, melainkan memiliki cerita dan makna mendalam yang terkait erat dengan kehidupan dan kepercayaan masyarakat setempat.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih lanjut tentang keistimewaan Tongkat milik Abah Guru Sekumpul ini, kisah di baliknya, dan bagaimana tongkat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan kebudayaan spiritual Kalimantan.

Mengenal Abah Guru Sekumpul

Sebelum membahas mengenai Tongkat milik Abah Guru Sekumpul, amari kita mengenal terlebih dahulu Abah Guru Sekumpul.

Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani al-Banjari, yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari, merupakan salah satu ulama dan tokoh yang memiliki kharisma tinggi dan begitu populer di Kalimantan.

Beliau lahir pada tanggal 11 Februari 1942, di Tunggul Irang, dan meninggal pada tanggal 10 Agustus 2005, di Sekumpul. Nama “Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari” adalah sebuah nama yang dihormati dan diakui oleh banyak orang di kalangan masyarakat Kalimantan.

Abah Guru Sekumpul adalah seorang ulama besar yang ilmunya sangat terkenal dan dihormati. Kealiman beliau menjadi topik pembicaraan di kalangan masyarakat yang mengaguminya.

Selain pengetahuannya yang mendalam, Abah Guru Sekumpul juga dikenal memiliki berbagai kelebihan dan karomah yang luar biasa.

Baca Juga :  Manfaat Bekam Saat Puasa dan Efek Sampingnya

Kepercayaan bahwa beliau adalah seorang Wali Allah atau seorang yang memiliki kedekatan khusus dengan Tuhan menjadi salah satu ciri khasnya yang membuatnya sangat dihormati dalam masyarakat.

Tongkat milik Abah Guru Sekumpul

Kisah yang diceritakan oleh Abah Haji (KH. Ahmad Zuhdianoor) dalam majelis malam Sabtu mengisahkan tentang sebuah peristiwa mencengangkan.

Suatu malam, seorang maling berniat mencuri di salah satu rumah yang memajang foto Abah Guru Sekumpul sedang memegang tongkat.

Tanpa sepengetahuan pemilik rumah, sang maling berhasil masuk ke dalam rumah tersebut, merencanakan aksi kejahatannya.

Namun, ketika sang maling mendekati foto Abah Guru Sekumpul yang sedang memegang tongkat, terjadi keajaiban yang luar biasa.

Tongkat yang ada dalam foto tersebut tiba-tiba keluar dari foto dan dengan cepat meluncur ke arah kepala sang maling.

Dalam sekejap, tongkat itu melayangkan pukulan yang akurat ke arah kepala sang maling yang tengah mencoba mencuri. Kejadian ini begitu mendebarkan dan mengejutkan bagi semua yang hadir.

Setelah insiden tersebut terjadi, kabar tentang kejadian tersebut menyebar dengan cepat di seluruh kampung.

Sebagai reaksi terhadap mukjizat tersebut, penduduk kampung memutuskan untuk membeli foto Abah Guru Sekumpul yang memegang tongkat sebagai bentuk penghormatan dan kekaguman kepada tokoh spiritual yang begitu dihormati, Subhanallooh…

Tidak hanya Abah Haji yang menceritakan insiden ini, tetapi juga Guru Saifuddin Zuhri dalam majelis bani ‘isma’il pada malam Jumat tanggal 8 September 2016.

Dalam ceritanya, dikungkapkan bahwa tongkat yang digunakan oleh Abah Guru Sekumpul adalah tongkat Kewaliyan.

Tongkat ini memiliki sejarah panjang dan bernilai spiritual tinggi. Awalnya, tongkat tersebut dimiliki oleh Syaikh Samman Al Madaniy, kemudian diwariskan kepada Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari, dan akhirnya sampai ke tangan Syaikh Muhammad Zaini Bin ‘Abdul Ghoni (Abah Guru Sekumpul).

Baca Juga :  Santri Itu Samina Wa Athona - Peran Penting

Cerita ini semakin mengukuhkan keistimewaan tongkat tersebut dan keberadaannya dalam foto yang memegang peran besar dalam insiden tersebut.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Tongkat milik Abah Guru Sekumpul.

Dengan demikian, Tongkat milik Abah Guru Sekumpul bukan hanya sebuah benda fisik, melainkan sebuah simbol spiritual dan warisan budaya yang membanggakan bagi masyarakat Kalimantan.

Kisahnya yang luar biasa dan karomahnya yang diyakini telah menginspirasi banyak orang, menjadikan tongkat ini sebagai penanda kebesaran seorang ulama dan Wali Allah yang sangat dihormati.

Kehadirannya dalam foto yang melibatkan peristiwa maling yang gagal mencuri, yang diceritakan oleh Abah Haji dan Guru Saifuddin Zuhri, semakin menegaskan bahwa tongkat ini bukanlah sekadar benda mati, melainkan memiliki kekuatan spiritual yang mengagumkan.

Melalui kisah tongkat milik Abah Guru Sekumpul, kita dapat mengenang dan merenungkan warisan spiritual yang berharga dari tokoh agung tersebut.

Tongkat ini menjadi bukti nyata bahwa kebaikan, keimanan, dan ketakwaan seseorang dapat menciptakan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat.

Semoga cerita ini menginspirasi kita untuk menjaga dan menghormati warisan budaya dan spiritual yang berharga seperti tongkat milik Abah Guru Sekumpul, sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal yang patut dilestarikan dan disebarkan kepada generasi mendatang.

Terima kasih telah membaca artikel Tongkat milik Abah Guru Sekumpul ini, semoga informasi mengenai Tongkat milik Abah Guru Sekumpul ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *