Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan

Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan

Diposting pada

Hasiltani.id – Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan dalam Praktik Keagamaan Islam. Selamat datang di panduan lengkap tentang dzikir dan nasyid! Hasiltani di sini untuk memberikan informasi komprehensif mengenai dua aspek penting dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim.

Dalam artikel ini, Hasiltani akan menjelaskan secara mendalam mengenai Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan, dalil-dalil yang menguatkan praktik ini, serta keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Mengenal Dzikir Nasyid

Sebelum membahas mengenai Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan, mari kita mengenal Dzikir Nasyid terlebih dahulu.

Zikir dalam bentuk nasyid yang diamalkan oleh kaum Muslimin Banjar, terutama yang tergabung dalam tarekat tertentu:

1. Pengamalan Tarekat dan Zikir Nasyid:

Kaum Muslimin Banjar secara luas dikenal sebagai kelompok yang menganut ajaran tarekat. Tarekat adalah suatu aliran dalam Islam yang mengajarkan praktik-praktik spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Salah satu bentuk pengamalan spiritual ini adalah melalui zikir, yaitu pengulangan kalimat-kalimat atau nama-nama Tuhan yang bertujuan untuk mengingat-Nya dan merasakan kedekatan dengan-Nya.

2. Nasyid sebagai Bentuk Zikir:

Salah satu bentuk zikir yang diamalkan oleh kaum Muslimin Banjar adalah nasyid. Nasyid adalah lagu-lagu religius yang berisi pesan-pesan keagamaan dan pujian kepada Tuhan.

Nasyid ini dijadikan alat untuk menguatkan rasa spiritual dan keimanan para pengikut tarekat.

3. Penggunaan Nasyid dalam Perayaan Haul:

Zikir nasyid seringkali dilantunkan menjelang perayaan haul, yang merupakan hari ulang tahun kematian seorang wali atau tokoh sufi yang dihormati dalam tarekat.

Contohnya adalah haul Muallim KH Jahri dan haul Tuan Guru Sekumpul Martapura. Pada acara-acara haul ini, para pengikut tarekat berkumpul untuk mengenang dan merayakan kehidupan spiritual tokoh tersebut, termasuk dengan melantunkan zikir nasyid.

4. Tarekat Naqsyabandiyah Qadiriyah dan Manaqib:

Dalam tarekat Naqsyabandiyah Qadiriyah, terdapat praktik pembacaan Manaqib, yaitu riwayat atau kisah-kisah keagamaan tentang para wali atau tokoh sufi.

Dalam pembacaan Manaqib ini, zikir nasyid seringkali terdapat sebagai bagian penting dalam menyampaikan pesan-pesan spiritual.

Dalam praktik tarekat, pemimpin zikir memiliki peran penting dalam mengarahkan dan memandu pengikut tarekat dalam melantunkan zikir nasyid.

Contohnya adalah Sayid Muhammad Al-Maliki, yang dikenal sebagai pemimpin zikir yang dihormati. Selain itu, aliran-aliran sufi lainnya di berbagai negara juga memiliki praktik zikir nasyid yang serupa.

Tujuan Zikir Nasyid

Dalam Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan, Zikir nasyid memiliki tujuan utama untuk memperkuat rasa cinta dan kecintaan kepada Tuhan, serta untuk menghilangkan gangguan pikiran dan mencapai kedekatan spiritual.

Melalui lantunan lagu-lagu yang penuh dengan pujian kepada Tuhan, para pengikut tarekat berusaha merasakan kehadiran-Nya dalam hati dan jiwa mereka.

Hal Penting dalam Dzikir Nasyid

Dalam Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan ini, ada beberapa aspek yang perlu diuraikan secara terperinci, terutama berkaitan dengan melantunkan syair-syair religius yang memiliki kedalaman makna dan relevansi dengan ajaran Islam:

1. Melantunkan Syair Dalam Zikir Nasyid:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam suatu kesempatan berdoa dengan menggunakan syair-syair yang memiliki makna mendalam, sebagai berikut:

a. Doa dengan Syair Pertama:

وَاللهِ لَوْلاَ أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا • وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

Artinya:

“Demi Allah, tanpa Engkau kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak dapat bersedekah, dan tidak akan salat.

فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا • إِنَّ الأُلَى قَدْ أَبَوْا عَلَيْنَا

Artinya:

“Maka turunkanlah ketenangan atas kami. Sungguh, orang-orang yang sombong telah melawan kami.”

Dalam riwayat tersebut juga dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengeraskan suaranya saat melantunkan bacaan tersebut (HR Bukhari 2837 dan Muslim 4771).

b. Doa dengan Syair Kedua:

نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدًا • عَلَى الإِسْلاَمِ مَا بَقِينَا أَبَدًا

Artinya:

“Kami adalah mereka yang telah berbaiat kepada Muhammad, dan kami akan berpegang teguh pada Islam selamanya.”

Kemudian, Rasulullah menjawab dengan doa syair yang bersajak:

اللَّهُمَّ إِنَّ الْخَيْرَ خَيْرُ الآخِرَهْ • فَاغْفِرْ لِلأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya kebaikan yang sejati adalah kebaikan di akhirat. Maka ampunilah para Anshar dan Muhajirin” (HR al-Bukhari No 2835 dan Muslim No 4777).

2. Zikir Yang Dilagukan

Jika kita merujuk pada fakta bahwa bahkan Nabi pun pernah bersyair, pertanyaannya kemudian adalah bagaimana jika syair tersebut diisi dengan zikir? Syekh Sulaiman Al-Jamal, seorang ulama dari Al-Azhar, mengutip pandangan Hujjatul Islam al-Ghazali dalam hal ini:

قَالَ الْغَزَالِيُّ الْغِنَاءُ إنْ قُصِدَ بِهِ تَرْوِيحُ الْقَلْبِ لِيُقَوِّيَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ طَاعَةٌ أَوْ عَلَى الْمَعْصِيَةِ فَهُوَ مَعْصِيَةٌ أَوْ لَمْ يُقْصَدْ بِهِ شَيْءٌ فَهُوَ لَهْوٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ ا هـ ح ل

Imam al-Ghazali menyatakan, “Jika nyanyian digunakan untuk memperkuat hati dalam ibadah, maka ia memiliki nilai ibadah. Namun, jika digunakan untuk maksiat, maka memiliki nilai maksiat. Dan jika tidak memiliki tujuan apapun, maka itu hanya merupakan kata-kata sia-sia yang bisa diampuni” (Hasyiah al-Jamal 23/270).

3. Zikir Bersama Dipandu Seorang Imam

قال شَدَّادُ بْنُ اَوْسٍ وَعُبَادَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَاضِرٌ فَصَدَّقَهُ وَقَالَ قَالَ : بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ : فِيكُمْ غَرِيبٌ يَعْنِي أَهْلَ الْكِتَابِ ، فَقُلْنَا : لاَ يَا رَسُولَ اللهِ ، فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ ، وَقَالَ : ارْفَعُوا أَيْدِيكُمْ فَقُولُوا : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً

Syaddad bin Aus melaporkan suatu peristiwa yang juga dihadiri oleh Ubadah. Ketika peristiwa itu terjadi, Ubadah mengonfirmasinya dengan berkata,

“Kami berbaiat kepada Nabi, lalu beliau bertanya kepada kami, ‘Apakah di antara kalian ada orang yang bukan dari kalangan kita (ahli kitab)?’ Kami menjawab, ‘Tidak ada, wahai Rasulullah.”

Setelah itu, Nabi memerintahkan kami untuk menutup pintu. Kemudian, beliau bersabda, ‘Angkatlah tangan kalian dan ucapkanlah La ilaha illa Allah.’ Kami pun mengangkat tangan kami.” (HR Thabrani dengan para perawinya dinilai sebagai perawi yang terpercaya.

Dalam laporan ini terdapat perawi bernama Rasyid bin Dawud, yang dinilai tsiqah oleh Ibnu Main dan Ibnu Hibban, namun dinilai daif oleh Ad-Daraquthni).

4. Gerakan Tubuh

Zikir dalam bentuk gerakan tubuh ada yang terjadi secara spontan dan refleks, dan ada pula yang dilakukan secara berkelompok.

Dalam konteks ini, gerakan tubuh tersebut diperbolehkan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam pandangannya:

وقد استدل الاستاذ الغزالي على إباحة الرقص : برقص الحبشة والزنوج في المسجد النبوي يوم عيد حيث أقرهم رسول الله صلى الله عليه و سلم وأباح لزوجه السيدة عائشة رضي الله عنه أن تتفرج عليهم وهي مستترة به صلى الله عليه و سلم وهوكما تعلم لا يثير أي شهوة فالنوع المباح من الرقص هو الذي لا يثير شهوة فاسدة

Imam al-Ghazali mengemukakan izin terhadap ‘gerakan tubuh’ dalam hal gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Habasyah di Masjid Nabi dan diizinkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Beliau juga menyebutkan bahwa Rasulullah memperbolehkan istri beliau, yaitu Aisyah radhiyallahu anha, untuk menyaksikan gerakan tersebut dengan tetap menjaga aurat beliau.

Persyaratan yang ditetapkan adalah bahwa gerakan tersebut tidak boleh menimbulkan dorongan nafsu atau gairah yang tidak pantas (al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah 2/42).

Terlepas dari itu, juga terdapat contoh bahwa memuji-muji Rasulullah dengan menggunakan gerakan tubuh pernah terjadi dan Rasulullah sendiri membiarkannya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَتِ الْحَبَشَةُ يَزْفِنُونَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- وَيَرْقُصُونَ وَيَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « مَا يَقُولُونَ ». قَالُوا يَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ (رواه احمد)

Dari Anas radhiyallahu anhu, bahwa orang-orang Habasyah menampilkan tarian di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sambil mengatakan, “Muhammad adalah hamba yang saleh.”

Rasulullah bertanya, “Apa yang mereka katakan?” Mereka menjawab bahwa orang-orang Habasyah mengatakan, “Muhammad adalah hamba yang saleh.” (HR Ahmad, sanadnya dianggap sahih sesuai kriteria Muslim).

Menggali Manfaat Dzikir dalam Kehidupan Sehari-hari

Setelah membahas mengenai Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan, Hasiltani juga membahas mengenai manfaat dari Dzikir Nasyid ini.

Dzikir, atau mengingat Allah, adalah praktik yang memiliki dampak besar dalam kehidupan seorang Muslim. Melalui dzikir, kita dapat merasa lebih dekat dengan pencipta dan mendapatkan ketenangan batin.

Beberapa manfaat penting dari dzikir antara lain:

1. Ketenangan Jiwa dan Pikiran

Dzikir membantu membersihkan pikiran dan hati dari kegelisahan serta stres yang mungkin kita alami dalam rutinitas harian.

Dengan merenungkan nama-nama Allah, jiwa kita menjadi tenang dan pikiran menjadi lebih jernih.

2. Peningkatan Kualitas Ibadah

Mengingat Allah melalui dzikir dapat meningkatkan kualitas ibadah kita. Kita menjadi lebih khusyuk dalam menjalankan shalat dan berbagai ibadah lainnya.

3. Penguatan Ikatan dengan Allah

Dzikir membantu memperkuat ikatan spiritual antara manusia dan Allah. Dengan senantiasa mengingat-Nya, kita merasa lebih dekat dan terhubung dengan Sang Pencipta.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan. Dzikir nasyid sebagai bentuk pengabdian spiritual memiliki keistimewaan yang tak terbantahkan.

Melalui bacaan dzikir yang penuh makna dan pesan agung, umat Islam dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, menguatkan keimanan, serta merasakan kedamaian dalam hati.

Dalil-dalil yang diambil dari ajaran Islam dan riwayat para ulama menegaskan pentingnya dzikir nasyid dalam kehidupan beragama.

Bacaan dzikir dalam bentuk syair atau nasyid memiliki tujuan yang dalam, mulai dari memuliakan Allah dan Rasul-Nya hingga mengungkapkan kerinduan spiritual.

Dalam konteks ini, syair-syair yang dipilih memainkan peran penting dalam memperdalam makna dan pengalaman spiritual umat Islam.

Riwayat dan pengalaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam serta para Sahabat menunjukkan penghargaan terhadap bentuk pengungkapan ini, dengan syarat tidak melanggar etika dan prinsip-prinsip agama.

Terima kasih telah membaca artikel Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan ini, semoga informasi mengenai Dzikir Nasyid Bacaan Dalil Dan Penjelasan ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *