Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad

Membongkar Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad yang Menakjubkan

Diposting pada

Hasiltani.id – Membongkar Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad yang Menakjubkan. Dalam upaya untuk memberikan informasi yang mendalam mengenai pengamal Ratib Al-Haddad, Hasiltani akan mengulas kisah-kisah menakjubkan dari individu yang telah mengamalkan doa-doa ini dalam kehidupan mereka.

Ratib Al-Haddad, yang juga dikenal sebagai Wirid Haddad, adalah serangkaian doa-doa yang sangat dihormati dalam tradisi Islam.

Dalam artikel ini, Hasiltani akan menjelaskan Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad, kekuatan doa-doa ini dan bagaimana mereka telah mengubah hidup orang-orang yang mengamalkannya.

Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad

Pada pembahasan Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad, cerita-cerita mengenai keistimewaan Ratib Al-Haddad yang telah dikumpulkan banyak dicatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad. Di antaranya, ada cerita dari Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang tinggal di Seiwun (Hadramaut):

Pada suatu waktu, kami bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Sayangnya, bahtera kami terdampar karena kurangnya angin yang mendukung perjalanan kami. Kami berlabuh di sebuah pantai dan berusaha mengisi gerabah kami dengan air, lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kaki siang dan malam, takut ketinggalan waktu Haji.

Di salah satu perhentian, kami mencoba minum air dari gerabah tersebut, namun kami merasakan airnya asin dan payau, sehingga kami memutuskan untuk membuangnya. Kami duduk bingung, tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Habib Abu Bakar kemudian menyarankan kepada kelompok kami untuk membaca Ratib Haddad, berharap Allah akan memberikan pertolongan atas situasi sulit yang kami hadapi.

Sebelum kami selesai membacanya, tiba-tiba kami melihat dari kejauhan sekelompok orang yang sedang berkendara unta menuju ke lokasi kami. Kami sangat gembira melihat mereka, namun ketika mereka mendekati kami, kami menyadari bahwa mereka adalah perompak yang sering merampas harta orang yang melewati daerah tersebut.

Namun, dengan anugerah Allah, hati mereka menjadi lembut ketika mereka melihat kami terdampar di sana. Mereka memberi kami minum dan mengajak kami untuk naik unta mereka tanpa mengganggu kami sama sekali. Mereka membawa kami ke lokasi kaum Syarif tanpa masalah, dan dari sana kami melanjutkan perjalanan kami menuju ibadah Haji. Kami bersyukur atas pertolongan Allah SWT yang kami terima berkat membaca Ratib ini.

Ada juga cerita lain dari seseorang yang mencintai keturunan Sayyid:

Suatu hari, saya berangkat dari Ahsa’i menuju Hufuf. Di perjalanan, saya melihat sekelompok Badwi yang terkenal sering merampas harta orang yang melintas di sana.

Saya memutuskan untuk berhenti dan duduk. Saya membuat lingkaran di tanah dan duduk di tengahnya sambil membaca Ratib ini. Dengan kekuasaan Allah, mereka hanya berlalu di depan saya seolah-olah tidak melihat saya, meskipun saya bisa melihat mereka dengan jelas.

Baca Juga :  Kunci Sholawat Nuridzat yang Penuh Berkah dan Keutamaan

Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad

Juga, ada keajaiban serupa yang pernah dialami oleh seorang alim yang bernama Hasan bin Harun. Ketika ia dan teman-temannya meninggalkan kampung halamannya di sudut Oman untuk pergi ke Hadramaut, mereka dihadang oleh gerombolan perompak di tengah perjalanan. Hasan segera memerintahkan rekan-rekannya untuk membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak melakukan apapun kepada mereka, bahkan pergi tanpa menyusahkan mereka.”

Ada juga kisah yang diceritakan oleh seorang yang bijak dalam agama, Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi. Katanya, ada seorang penguasa yang sangat kejam bernama Tahmas, yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas adalah seorang penguasa dari kelompok etnis non-Arab yang telah menguasai banyak wilayah di sekitarnya. Dia telah mengumpulkan pasukannya untuk menyerang negeri Aughan.

Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengirim utusan kepada imam Habib Abdullah Haddad untuk memberitahunya bahwa Tahmas sedang bersiap-siap untuk menyerang mereka. Habib Abdullah Haddad segera mengirimkan Ratib ini dan memerintahkan Sultan Sulaiman beserta rakyatnya untuk membacanya.

Sultan Sulaiman dengan tekun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tentaranya serta seluruh rakyatnya untuk melakukannya dengan penuh keyakinan, sambil berkata: “Kita tidak akan bisa ditaklukkan oleh Tahmas, karena kita memiliki pertahanan yang kuat, yaitu Ratib Haddad ini.”

Sungguh benar apa yang diucapkan Sultan Sulaiman, bahwa negerinya terhindar dari serangan Tahmas dan selamat dari kekejaman penguasa tersebut berkat Ratib Haddad ini.

Seorang saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad yang bernama Abdullah bin Ahmad juga mengalami pengalaman serupa. Ketika dia berangkat dari Syiher menuju ke kota Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin berhenti dan kapal mereka terdampar, tak bisa bergerak lagi.

Mereka menunggu cukup lama, tetapi angin tidak juga datang. Maka, Abdullah bin Ahmad mengajak rekan-rekannya untuk membaca Ratib ini. Tidak lama kemudian, angin pun datang dan membawa kapal mereka ke tujuan dengan selamat, berkat berdoa dengan Ratib ini.

Pengalaman lain datang dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi saat dia melakukan perjalanan laut dengan kapal. Kapalnya tersesat dan terdampar di dekat sebuah batu karang. Angin juga berhenti, tak dapat menggerakkan kapal keluar dari bahaya.

Mereka semua merasa khawatir, lalu mereka membaca Ratib ini dengan niat agar Allah menyelamatkan mereka. Maka, dengan kehendak Allah SWT, angin datang dan menarik kapal mereka keluar dari situasi yang berbahaya itu menuju tujuan mereka. Oleh karena itu, saya pun menerapkan amalan membaca Ratib ini.

Pada suatu malam, saya tertidur sebelum sempat membaca Ratib Haddad. Namun dalam mimpi, Habib Abdullah Haddad datang dan mengingatkan saya untuk membacanya. Saya segera terbangun dari tidur dan melanjutkan untuk membaca Ratib Haddad tersebut.

Baca Juga :  Ratib Al-Haddad Agar Panjang Umur beserta Keutamaan Ayat Kursi

Selain itu, ada cerita menarik yang diceritakan oleh Syeikh Allamah Sufi, murid Ahmad Asy-Syaijjar, yaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi. Dia menceritakan, “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, orang yang menyusun Ratib ini. Tiba-tiba, seorang lelaki datang dan meminta sesuatu kepada Habib Abdullah Haddad. Dia memberikan saya sebuah rantai, dan saya memberikannya kepada lelaki tersebut.

Pada hari berikutnya, seorang lelaki mendatangi saya dan meminta ijazah (izin) untuk membaca Ratib Haddad ini, seperti yang telah diijazahkan kepada saya oleh guru saya, Ahmad Asy-Syajjar. Saya menceritakan kepada orang tersebut tentang mimpiku semalam, di mana saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad dan ada seorang yang datang kepadanya.

Saya berkata, “Kalau begitu, engkau adalah orang yang dimaksud dalam mimpiku.” Dari hari itu, Syeikh Al-Hijazi selalu membaca Ratib Haddad ketika merasa ketakutan, baik pada siang hari maupun malam. Memang, membacanya pada kedua waktu tersebut sangat dianjurkan, sesuai dengan petunjuk dari penyusun Ratib ini sendiri.

Ada seseorang dari kota Quds (Syam) yang, setelah dia sendiri merasakan banyak keistimewaan dari membaca Ratib ini, memutuskan untuk membuat ruang khusus di sudut rumahnya yang disebut Tempat Baca Ratib. Di sana, dia mengumpulkan orang-orang untuk melakukan bacaan Ratib ini pada siang dan malam hari.

Selain itu, Sayyid Ali bin Hassan, seorang penduduk Mirbath, mengisahkan pengalaman pribadinya. Dia mengatakan, “Suatu kali, saya tertidur sebelum sempat membaca Ratib. Saya kemudian bermimpi bahwa seorang Malaikat datang kepada saya dan berkata, ‘Setiap malam, kami para Malaikat melayanimu dengan berbagai kebaikan, tetapi malam ini kami tidak melakukan apa-apa karena kamu tidak membaca Ratib.’ Saya segera terbangun dari tidur dan segera membaca Ratib Haddad dengan cepat.”

Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad

Sebagian kaum Sayyid juga berbagi pengalamannya. Mereka menceritakan, “Ketika kami tertidur sementara membaca Ratib sebelum selesai, kami sering bermimpi mengalami hal-hal yang mengejutkan. Namun, jika kami berhasil menyelesaikan bacaan Ratib, kami tidak bermimpi apa pun.”

Selain itu, ada cerita tentang seorang pengagum kaum Sayyid, yaitu Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban, yang tinggal di negeri Shai’ar. Dia menceritakan, “Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad, yang selalu saya layani, tidak pernah meninggalkan bacaan Ratib ini. Suatu malam, kami tertidur sebelum waktu Isya’ dan tidak membaca Ratib, bahkan kami melewatkan salat Isya’ bersama-sama, termasuk Sidi Habib Zainul Abidin.

Kami tidak menyadari apa yang terjadi sampai pagi hari, saat kami menemukan sebagian rumah kami terbakar. Kami menyadari bahwa semua ini terjadi karena kami tidak membaca Ratib ini. Oleh karena itu, kami tidak pernah lagi meninggalkan bacaan Ratib. Setelah membacanya, kami merasa tenang, tidak ada yang membahayakan kami, dan kami tidak lagi khawatir tentang rumah kami, meskipun itu terbuat dari daun kurma. Tanpa Ratib, hati kami gelisah dan selalu penuh kekhawatiran.”

Baca Juga :  Cara Mengamalkan Dzikir Ratib Al-Haddad

Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad, mengatakan, “Orang yang melarang orang lain untuk membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, pasti akan mendapat bencana yang berat dari Allah, dan peringatan ini bukanlah sekadar omong kosong.”

Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi, dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad, mengutip perkataan Saiyidina Habib Abdullah Haddad, “Orang yang menentang atau secara terang-terangan membangkang terhadap mereka yang membaca Ratib kami ini, atau bahkan menyembunyikan pembangkangannya, akan menemui bencana seperti yang menimpa orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid, atau yang mengabaikan mengingat Allah.

Allah berfirman, ‘Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.’ (Surah Thaha, ayat 124).

Allah berfirman pula, ‘Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan yang Maha Pemurah, Kami akan menunjukkannya dengan syaitan yang menjadi temannya.’ (Surah Az-Zukhruf, ayat 36).

Allah juga berfirman, ‘Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhannya, Kami akan menurunkannya kepada siksa yang menyesakkan nafas.’ (Surah Al-Jin, ayat 17).”

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad.

Kisah-kisah para pengamal Ratib Al-Haddad yang telah Hasiltani bagikan di atas adalah bukti nyata akan keistimewaan dan keberkahan yang dapat diperoleh melalui bacaan doa ini.

Mereka mencerminkan bagaimana kekuatan spiritual dan perlindungan Allah SWT dapat dirasakan oleh mereka yang tekun dalam menjalankan wirid ini.

Dalam hidup yang penuh ujian dan tantangan, mengamalkan Ratib Al-Haddad dapat menjadi sumber ketenangan, kekuatan, dan perlindungan dari berbagai bencana dan kesulitan.

Kesaksian dari para ulama dan pengamal yang telah Hasiltani bagikan adalah bukti bahwa doa ini memiliki dampak positif yang nyata dalam kehidupan mereka.

Oleh karena itu, mari sama-sama merenungkan dan mengambil inspirasi dari kisah-kisah pengamal Ratib Al-Haddad ini.

Semoga kita semua dapat menjalankan wirid ini dengan khusyuk dan tekun, serta merasakan berkah dan perlindungan Allah dalam setiap langkah hidup kita.

Terima kasih telah membaca artikel Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad ini, semoga informasi mengenai Kisah Pengamal Ratib Al-Haddad ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *