Fiil Mudhari

Pemahaman Mendalam tentang Fiil Mudhari

Diposting pada

Hasiltani.id – Pemahaman Mendalam tentang Fiil Mudhari. Fiil Mudhari, atau yang dikenal sebagai kata kerja bentuk sekarang dalam bahasa Arab, merupakan salah satu komponen penting dalam tata bahasa Arab yang berperan dalam mengungkapkan peristiwa atau tindakan dalam berbagai konteks.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih dalam tentang Fiil Mudhari, termasuk pengertian, ciri-ciri, serta perannya dalam membentuk kalimat dalam bahasa Arab.

Dengan pemahaman yang mendalam tentang Fiil Mudhari, kita akan dapat menguasai dasar-dasar komunikasi dalam bahasa Arab dan mengaplikasikannya dengan lebih efektif dalam berbicara dan menulis.

Pengertian Fiil Mudhari

Dalam istilah nahwu, fiil mudhori memiliki pengertian sebagai kalimat yang dapat menyampaikan maknanya dengan sendirinya, sekaligus mencerminkan informasi tentang zaman (waktu sekarang atau masa depan) serta arah (istikbal) dari perbuatan yang diungkapkan dalam kalimat tersebut.

Contoh yang sering digunakan untuk mengilustrasikan fiil mudhori adalah kata kerja “يَنْصُرُ” (yanṣuru), yang artinya “menolong.”

Definisi lain dari fiil mudhari’ adalah kalimat yang mampu mencerminkan berhasilnya suatu perbuatan atau peristiwa ketika diberikan pengumuman atau setelah pengumuman dilakukan. Dalam kedua definisi ini, inti esensialnya tetap sama.

Sebagai contoh penggunaan fiil mudhari’, kita bisa mempertimbangkan kalimat “يَقُوْمُ زَيْدٌ” (yaqūmu Zaidun), yang dapat diterjemahkan sebagai “Zaid sedang/akan berdiri.”

Saat kita mengucapkan atau mengumumkan kalimat ini, kita tidak hanya menyampaikan informasi bahwa Zaid sedang melakukan tindakan berdiri (zaman hal), tetapi juga memberikan indikasi bahwa perbuatan ini akan terjadi di masa depan (zaman istiqbal).

Dengan demikian, fiil mudhari’ membawa bersamaan makna, waktu, dan arah perbuatan yang diungkapkan dalam kalimat tersebut.

Zaman Fiil Mudhari

Zaman atau masa yang dinyatakan oleh fiil mudhari’ mencakup dua aspek, yaitu zaman hal (zaman hadhir) dan masa depan (mustaqbal).

Dengan kata lain, fiil mudhari’ mampu mengindikasikan kedua aspek waktu ini secara bersamaan. Konsep ini menjadi penting dalam pemahaman tata bahasa Arab.

Namun, beberapa ahli nahwu berpendapat bahwa hakikat sejati dari fiil mudhari’ sebenarnya menunjukkan zaman hal (ketika diucapkan atau diumumkan).

Sedangkan, pengindikasian terhadap masa depan (zaman istiqbal) disebut sebagai majaz atau perumpamaan.

Zaman istiqbal disebut sebagai majaz karena ketika fiil mudhari’ hendak mengindikasikan waktu yang akan datang, biasanya diperlukan tambahan qarinah atau tanda seperti “saufa,” “sin,” “ghadan,” atau yang serupa.

Keharusan menggunakan qarinah ini adalah hal yang membuat zaman istiqbal dianggap sebagai majaz dalam konteks penggunaan fiil mudhari’.

Dengan kata lain, penggunaan qarinah ini memberikan petunjuk khusus terhadap masa depan dan menjelaskan bahwa perbuatan yang diungkapkan akan terjadi di waktu yang akan datang.

Tanda Fiil Mudhari

Fi’il mudhari memiliki beberapa tanda atau alamat yang membantu dalam mengidentifikasinya. Alamat-alamat ini biasanya digunakan untuk menunjukkan peristiwa yang akan datang atau masa depan.

Berikut adalah beberapa tanda khusus fi’il mudhari beserta contohnya:

Baca Juga :  Barakallah Fii Umrik Artinya? - Makna Mendalam Ucapan Ulang Tahun dalam Islam

  1. Sin (سين): Tanda ini digunakan untuk mengekspresikan peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “سَيَقُوْلُ” (sayaqūlu), yang berarti “akan berbicara.” Sin (سين) memberi petunjuk bahwa perbuatan berbicara ini akan terjadi di masa yang akan datang.
  2. Saufa (سوفَ): Tanda “سوفَ” (saufa) juga digunakan untuk menunjukkan masa depan. Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “سَوْفَ نَجِيْءُ” (sawfa najī’u), yang berarti “kami akan datang.” Penggunaan “سوفَ” (saufa) menandakan bahwa perbuatan datang akan terjadi di masa yang akan datang.
  3. Lam Amil Jazm (لَمْ): Tanda “لَمْ” (lam) digunakan untuk menegaskan bahwa suatu peristiwa tidak terjadi atau tidak akan terjadi di masa depan. Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “لَمْ أَكْسَلْ” (lam aksal), yang berarti “Saya tidak malas.” Penggunaan “لَمْ” (lam) menunjukkan bahwa perbuatan malas tidak terjadi.
  4. Lan Amil Nashob (لَنْ): Tanda “لَنْ” (lan) juga digunakan untuk menegaskan bahwa suatu peristiwa tidak akan terjadi di masa depan. Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “لَنْ أَتأخَّرَ” (lan atākhhar), yang berarti “Saya tidak akan telat.” “لَنْ” (lan) menunjukkan bahwa perbuatan telat tidak akan terjadi.

Selain dari empat tanda khusus ini, ada juga ciri-ciri fi’il mudhari yang sama dengan ciri-ciri fi’il madhi, yaitu “qad” (قَدْ). Perbedaannya terletak pada faidahnya.

“Qad” (قَدْ) dalam fi’il mudhari digunakan untuk menegaskan bahwa suatu peristiwa telah atau sudah terjadi di masa lalu.

Huruf Mudhoro’ah

Selain dari tanda-tanda khusus yang telah dijelaskan sebelumnya, fi’il mudhari’ juga memiliki karakteristik awalan yang disebut “huruf mudhoro’ah” (أَحرف المُضَارَعةِ).

Huruf-huruf ini selalu menjadi awalan dari fi’il mudhari’ dan memiliki hubungan dengan status atau situasi pelaku yang terkandung dalam kalimat.

Terdapat empat huruf mudhoro’ah yang digunakan, yaitu hamzah (أ), nun (ن), ya’ (ي), dan ta’ (ت). Kombinasi dari huruf-huruf ini dapat disingkat sebagai “anaitu” (أنيت), “anita” (أنِيْتَ), atau “na’atu” (نأيت).

Berikut adalah makna atau arti yang terkait dengan masing-masing huruf mudhoro’ah:

Hamzah (أ):

Huruf “أ” menunjukkan bahwa pelaku berbicara atau melakukan sesuatu dalam keadaan tunggal (mutakallim wahdah).

Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “أَغْسِلُ يَدَيَّ” (aghsilu yadayya), yang berarti “Saya membasuh/mencuci kedua tanganku.” Dalam hal ini, pelaku berbicara dalam konteks tunggal.

Nun (ن):

Huruf “ن” menunjukkan bahwa pelaku berbicara atau melakukan sesuatu bersama dengan orang lain (mutakallim ma’al ghari).

Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “نَلعَبُ بالْكُرَةِ” (nal’abu bāl-kurati), yang berarti “Kita bermain bola.” Dalam kasus ini, pelaku berbicara dalam konteks kolektif bersama dengan orang lain.

Ya’ (ي):

Huruf “ي” menunjukkan bahwa pelaku atau subjek yang berbicara adalah dalam keadaan ghaib (tidak disebutkan secara eksplisit dalam kalimat).

Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “يَكْتُبُ الدَّرْسَ” (yaktubu ad-darsa), yang berarti “Dia menulis pelajaran.” Dalam hal ini, subjek yang melakukan penulisan tidak disebutkan dengan jelas dalam kalimat.

Ta’ (ت):

Huruf “ت” menunjukkan bahwa pelaku atau subjek yang berbicara adalah dalam keadaan khittab (alamat) atau ghaibah (tidak hadir dalam konteks fisik).

Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat “تَأْكُلُ الْبِنْتُ” (ta’kulu al-bintu), yang berarti “Gadis sedang makan.”

Baca Juga :  Contoh Qalqalah Kubra dalam Bacaan Al-Quran - Prinsip Tajwid yang Penting

Dalam kalimat ini, pelaku yang makan tidak secara eksplisit disebutkan, tetapi perbuatan makan dilakukan oleh seseorang yang menjadi fokus pembicaraan.

Hukum Fiil Mudhari

Hukum dasar dalam membentuk kalimat fi’il adalah “mabni,” yang berarti kalimat tersebut tetap dalam bentuk asalnya.

Namun, jika kalimat fi’il “berhukum mu’rob,” itu berarti fi’il tersebut keluar dari bentuk aslinya. Istilah “mu’rob” merujuk pada kemampuan kalimat fi’il untuk menerima i’rob (infleksi) atau bisa di’irobi.

Fi’il mudhari’ dianggap “dihukumi mu’rob” selama tidak bertemu dengan dua jenis nun khusus, yaitu “nun taukid” (نون التوكيد) dan “nun jama’ niswah” (نون النسوة).

Jika fi’il mudhari’ bertemu dengan nun-nun tersebut, maka kalimat tersebut dihukumi “mabni” (tetap dalam bentuk asalnya).

Contoh-contoh fi’il mudhari’ yang dihukumi mabni karena bertemu dengan nun-nun tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Nun taukid khofifah (خفيفةٌ), contohnya: “يَضْرِبَنْ” (yadriban) – dalam hal ini, kalimat fi’il dihukumi mabni karena bertemu dengan “nun taukid” jenis khofifah.
  2. Nun taukid tsaqilah (ثقيلةٌ), contohnya: “يَضْرِبَنَّ” (yadribanna) – kalimat fi’il juga dihukumi mabni karena bertemu dengan “nun taukid” jenis tsaqilah.
  3. Nun jamak niswah (نون النسوة), contohnya: “يَضْرِبْنَ” (yadribna) – dalam hal ini, fi’il mudhari’ juga dihukumi mabni karena bertemu dengan “nun jamak niswah.”

Jadi, fi’il mudhari’ yang seharusnya mabni akan menjadi mu’rob ketika serupa dengan kalimat isim (lihat pengantar tulisan ini).

Namun, jika fi’il mudhari’ bertemu dengan ketiga jenis nun di atas, ia akan kembali menjadi mabni lagi karena dua jenis nun taukid dan nun niswah adalah nun-nun yang khusus terdapat dalam kalimat fi’il.

Macam Fi’il Mudhari

Fi’il mudhari’ dapat dibedakan berdasarkan huruf akhirnya menjadi beberapa kategori, yang penting untuk memahami cara i’rob (infleksi) dalam tata bahasa Arab.

Berikut adalah beberapa kategori fi’il mudhari’ berdasarkan huruf akhirnya:

  1. Shahih Akhir (صحيح الآخر): Contoh dari kategori ini adalah “يَفُوْزُ” (yafūzu), yang berarti “dia menang.” Fi’il mudhari’ dalam kategori ini memiliki akhiran yang tetap atau tidak berubah.
  2. Mu’tal Akhir (معتل الآخر): Contoh dari kategori ini adalah “يَخْشَى” (yakhsha), yang berarti “dia takut.” Fi’il mudhari’ dalam kategori ini memiliki akhiran yang berubah.

Selain itu, ada juga kategori fi’il mudhari’ yang disebut “Fi’il mudhori’ ittashola bi akhiri syai’un” (اتصل بآخره شيءٌ), yang juga dikenal sebagai “Af’alul khomsah” (أفعال الخمسة).

Kategori ini terdiri dari 5 fi’il mudhari’ yang huruf akhirnya bertemu dengan dhomir alif tasniah, wawu jamak, atau ya mukhotobah. Contoh-contoh dalam kategori ini adalah:

  • يَكْتُبَانِ (yaktubāni)
  • تَكْتُبَانِ (taktubāni)
  • يَكْتُبُوْنَ (yaktubūna)
  • تَكْتُبُوْنَ (taktubūna)
  • تَكْتُبِيْنَ (taktubīna)

Pemisahan berdasarkan huruf akhir ini berkaitan erat dengan i’rob, yaitu cara mengubah kata kerja fi’il mudhari’ untuk mengikuti perubahan dalam kalimat dan pemahaman yang lebih mendalam tentang alamat i’rob yang sesuai dengan masing-masing kategori fi’il mudhari’.

Hal ini sangat penting dalam tata bahasa Arab untuk memahami dan menyusun kalimat dengan benar.

Tashrif Fiil Mudhari

Seperti halnya dalam fi’il madhi, fi’il mudhari’ juga memiliki sejumlah bentuk infleksi yang sesuai dengan tashrif lughowi. Dalam tashrif lughowi fi’il mudhari’, terdapat 14 bentuk dhomir munfashil yang dapat digunakan.

Baca Juga :  Memahami Konsep Nun Wiqoyah dalam Tajwid dan Tata Bahasa Arab

Ini adalah bentuk-bentuk dhomir yang telah ditampilkan sebelumnya:

  1. أَكْتُبُ (aktubu)
  2. تَكْتُبُ (taktubu)
  3. يَكْتُبُ (yaktubu)
  4. نَكْتُبُ (naktubu)
  5. تَكْتُبَانِ (taktubāni)
  6. تَكْتُبَانِ (taktubāni)
  7. يَكْتُبَانِ (yaktubāni)
  8. تَكْتُبُوْنَ (taktubūna)
  9. تَكْتُبُوْنَ (taktubūna)
  10. يَكْتُبُوْنَ (yaktubūna)
  11. تَكْتُبِيْنَ (taktubīna)
  12. تَكْتُبَانِ (taktubāni)
  13. تَكْتُبْنَ (taktubna)
  14. يَكْتُبْنَ (yaktubna)

Ini adalah bentuk-bentuk infleksi untuk fi’il mudhari’ dalam tashrif lughowi yang dikenal sebagai mabni ma’lum, yang berarti bentuk dasar yang diketahui.

Selain itu, seperti yang Sobat sebutkan, ada juga bentuk mabni majhul (pasif) dalam fi’il mudhari’, yang mirip dengan fi’il madhi.

Infleksi-infleksi ini digunakan untuk mengubah kata kerja fi’il mudhari’ agar sesuai dengan konteks dan pemahaman tata bahasa Arab yang lebih mendalam.

Contoh Fiil Mudhari

Berikut ini adalah beberapa contoh kalimat fi’il mudhari dalam bahasa Arab beserta artinya:

  1. تَطِيْرُ الحَمَامَةُ (taṭīru al-ḥamāmah) – Artinya: Merpati terbang.
  2. يَعُوْدُ المُسَافِرُ (ya’ūdu al-musāfiru) – Artinya: Musafir pulang.
  3. يَحْكُمُ القَاضِي (yaḥkumu al-qāḍi) – Artinya: Hakim memberikan hukum.

Selain itu, Sobat juga memberikan contoh kalimat fi’il mudhari dalam Al-Quran:

  1. أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ (a-yahsabu an lam yarahu aḥadun) – Contoh fi’il mudhari’ rofa’ (naik suara). Artinya: Apakah dia mengira bahwa tidak ada yang melihatnya?
  2. أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ (an lan yaqdira ‘alayhi aḥadun) – Contoh fi’il mudhari’ nashob (turun suara). Artinya: Bahwa tidak ada yang mampu (menghadapi)nya.
  3. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (lam yalid wa lam yūlad) – Contoh fi’il mudhari’ jazm (tanpa i’rob). Artinya: Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Dalam contoh terakhir, “yalid” adalah contoh fi’il mudhari’ jazm dengan huruf “lam” yang mengindikasikan negasi, sementara “yūlad” adalah contoh fi’il mudhari’ majhul (pasif) yang menunjukkan bahwa seseorang tidak dilahirkan.

Semua contoh tersebut adalah mabni ma’lum (bentuk dasar yang diketahui) dalam tata bahasa Arab.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Fiil Mudhari.

Dalam penutup artikel ini, kita telah memahami bahwa Fiil Mudhari, atau kata kerja bentuk sekarang, memiliki peran yang sangat penting dalam tata bahasa Arab.

Kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menguasai Fiil Mudhari adalah langkah pertama dalam meraih kemahiran berbicara dan menulis dalam bahasa Arab.

Dengan Fiil Mudhari, kita dapat menggambarkan peristiwa, tindakan, dan situasi dalam berbagai konteks dengan lebih tepat dan jelas.

Oleh karena itu, belajar Fiil Mudhari adalah kunci untuk menguasai bahasa Arab. Melalui pemahaman yang mendalam tentang konsep ini, kita dapat memperluas keterampilan berbahasa Arab kita dan lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan penutur asli atau dalam situasi-situasi sehari-hari.

Teruslah berlatih dan eksplorasi lebih lanjut tentang Fiil Mudhari, dan Anda akan merasakan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan berbahasa Arab Anda.

Semoga artikel ini bermanfaat dalam perjalanan Anda untuk menguasai Fiil Mudhari dan bahasa Arab secara keseluruhan.

Terimakasih telah membaca artikel Fiil Mudhari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *