Athaf Nasaq

Definisi Athaf Nasaq dan Contohnya

Diposting pada

Hasiltani.id – Definisi Athaf Nasaq dan Contohnya. Dalam studi ilmu nahwu, istilah “Athaf Nasaq” memiliki peran yang signifikan. Athaf Nasaq merujuk pada penggunaan huruf-huruf tertentu sebagai penengah atau perekat antara dua konsep dalam bahasa Arab.

Salah satu huruf athaf yang sering menjadi fokus perhatian dalam konteks Athaf Nasaq adalah النسق (An nasaq).

Dalam artikel ini, kita akan merinci konsep Athaf Nasaq, mengeksplorasi penggunaan huruf-huruf athaf, dan memahami implikasinya dalam struktur kalimat bahasa Arab.

Mari kita gali lebih dalam mengenai konsep penting ini untuk memperkaya pemahaman kita dalam ilmu nahwu.

Definisi Athaf Nasaq

Lafazh “An nasaq” (النسق) merupakan bentuk isim mashdar, namun menggunakan makna isim maf’ul yang dikenal sebagai mansuq (مَنْسُوْق).

Dalam konteks ini, “nasaq” dapat diartikan sebagai sesuatu yang disusun atau ditertibkan, karena mengandung makna isim maf’ul. Oleh karena itu, “athaf nasaq” berarti ataf yang disusun.

Dalam istilah nahwu, athaf nasaq didefinisikan sebagai tabi’ yang ditempatkan di tengah-tengah oleh salah satu huruf athaf.

Ini berarti bahwa sifat tabi’ dari athaf nasaq melibatkan penggunaan perantara huruf, yang berbeda dengan saudaranya, yaitu athaf bayan.

Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami konsep huruf athaf, yaitu kumpulan huruf tertentu yang menempati posisi tengah-tengah antara ma’thuf (tabi’) dan ma’thuf alaih (matbu’).

Penting untuk dicatat bahwa huruf-huruf ini bukan sembarang huruf, melainkan telah ditentukan oleh al wadhi’ atau peletak bahasa Arab.

Untuk memahami materi bab athaf nasaq ini secara lebih mendalam, penting bagi kita untuk menguasai berbagai macam huruf athaf terlebih dahulu.

Ini melibatkan pemahaman mengenai jumlah huruf, arti, dan fungsi dari huruf-huruf athaf ini.

Contoh Huruf Athaf dan Artinya

Mengidentifikasi contoh athaf nasaq sebenarnya sama dengan memberikan contoh huruf-huruf athaf. Athaf nasaq ini terdiri dari 9 huruf athaf menurut kesepakatan para pakar Nahwu.

Terdapat 1 huruf yang menjadi perdebatan terkait status keathafannya, yaitu huruf “imma”. Dengan memasukkan imma, maka jumlah huruf athaf menjadi 10.

Berikut adalah 10 huruf athaf yang dimaksud: wawu, fa’, tsumma, hatta, au, am, bal, laa, lakin, dan imma.

الواو والفاءُ وثُمَّ وحتى وأَو وأَم وبَلْ ولا ولكنْ وإمَّا

Berikut ini adalah huruf-huruf athaf beserta contoh kalimatnya dalam bentuk tabel gambar:

Athaf Nasaq

Selain itu, terdapat contoh huruf athaf yang dapat ditemukan dalam Al-Quran, dengan penjelasan dan keterangan athaf nasaq sebagai berikut.

Berikut adalah penjelasan, makna, dan arti dari 10 huruf athaf.

1. Wawu

Wawu athaf (الواو) tertulis وَ dan memiliki makna itlaqul jam’i, yang berarti wawu ini mengumpulkan ma’thuf dan ma’thuf alaih dalam hukum dan i’robnya. Wawu tidak memberikan faidah tartib dan ta’qib.

Baca Juga :  Dhomir Muttasil dan Munfasil - Memahami Perbedaan dan Fungsinya

Contoh penggunaan huruf athaf waw:

جاءَ عليٌّ وَخَالدٌ

Artinya: Ali dan Khalid sudah datang.

Maknanya antara Ali dan Khalid sama-sama dihukumi datang (jam’i lil hukmi), dan dibaca rofa’(jam’i lil irobi).

Kedatangan kedua orang ini, dengan wawu sebagai athafnya, tidak menunjukkan urutan dan selang waktu kedatangan. Jadi, wawu hanya menjelaskan kedatangan mereka berdua saja.

2. Fa’

Fa’ athaf (الفاءُ) tertulis فَ dan memiliki faidah tartib dan ta’qib. Tartib berarti berurutan, sementara ta’qib berarti segera/tidak berselang lama.

Contoh penggunaan huruf athaf fa’:

جاء عَليّ فَسَعِيْدٌ

Artinya: Ali datang, terus (tidak berselang lama) Sa’id (datang).

Jarak waktu kedatangan dianggap singkat.

3. Tsumma

Tsumma athaf (ثُمَّ) memiliki makna tartib tarakhi, yang artinya lambat atau berselang waktu lama.

Contoh penggunaan huruf athaf tsumma:

جاءَ عليٌّ ثمَّ سعيدٌ

Artinya: Ali datang, kemudian Said. Kedatangan kedua orang ini terpaut waktu yang dianggap lama.

Jadi, antara fa’ dan tsumma memiliki faidah yang sama, perbedaannya terletak pada interval waktu.

Tsumma, fa’, dan wawu merupakan tiga huruf athaf yang paling banyak digunakan dalam Al-Quran, dengan wawu menduduki peringkat pertama, diikuti oleh fa’ dan tsumma.

4. Hatta

Huruf athaf hatta (حَتَّى) jarang sekali dijumpai. Hatta dapat digunakan sebagai huruf athaf dengan syarat sebagai berikut:

  • Ma’thufnya berupa isim dhahir.
  • Ma’thuf merupakan bagian atau juz dari ma’thuf alaih, baik juz secara hakiki atau majazi.
  • Ma’thuf lebih tinggi/mulia atau lebih rendah dari ma’thuf alaih.
  • Ma’thuf berupa mufrad, bukan jumlah.

Contoh penggunaan huruf athaf hatta adalah:

غَلَبَكَ النَّاسُ حَتَّى الصِّبْيَانُ

Artinya: Manusia mengalahkanmu, bahkan (sampai) anak kecil.

Selain berfungsi sebagai huruf athaf, hatta juga berlaku sebagai huruf jar dan huruf ibtida’, di mana kalimat setelahnya berupa jumlah musta’nafah.

5. Au

Au athaf (أَوْ) digunakan jika jatuh setelah kalam thalab. Faidahnya terletak pada lit takhyir (pilihan), ibahah (pembolehan), dan idhrab (membalik hukum). Contoh penggunaan au dengan faidahnya secara berurutan adalah sebagai berikut:

تَزوَّجْ هنداً أو أختها

Artinya Nikahi Hindun atau saudarinya.

جَالِسِ العُلماءَ أو الزُهّادَ

Artinya: Duduklah/Berkumpullah dengan para Ulama atau ahli zuhud.

إذهبْ إلى دِمَشقَ، أو دَع ذلكَ

Artinya: pergilah ke Damaskus tetapi jangan lakukan itu.

Perbedaan antara faidah takhyir dengan ibahah adalah bahwa jika ibahah melibatkan dua hal yang bisa dikumpulkan, sementara fungsi takhyir adalah memilih, artinya tidak bisa dikumpulkan.

Jika Au ini jatuh setelah kalam khobariy, maka berfaidah syak (ragu-ragu), شّك (ibham/menyamarkan), taqsim (pembagian), tafshil ba’dal ijmal (perincian), dan idhrab.

6. Am

Am (أَمْ) adalah huruf athaf yang terbagi menjadi dua: muttashilah dan munqathi’ah. Muttashilah merujuk pada lafazh setelahnya yang bersambung dengan sebelumnya, dan keduanya bersekutu dalam hukum.

Baca Juga :  Pemahaman Mendalam tentang Mad Layyin - Contoh Mad Layyin di Juz 30

Am muttashilah ini biasanya muncul setelah hamzah istifham atau hamzah taswiyah. Contoh penggunaan am muttashilah:

أَعليٌّ في الدار أم خالدٌ؟

Artinya: Apakah yang di dalam rumah itu Ali atau Khalid?

Contoh penggunaan am setelah alif taswiyah dapat ditemukan dalam bacaan Surat Yasin ayat 10:

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Artinya:

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Am munqathi’ah merujuk pada huruf am yang memutus kalam awal dan memulai kalam baru sehingga faidahnya idhrab sama dengan ‘bal’.

Contoh penggunaan athaf am munqathi’ah dalam Al-Quran dapat ditemukan dalam surah ar-Ra’d ayat 16:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ

Artinya:

Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?”

Selain itu, terkadang am dijumpai dengan makna idhrab istifham ingkari, contohnya dalam surah at-Thur ayat 39:

أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ

Artinya Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?

7. Bal

Bal berfungsi sebagai huruf athaf jika setelah bal (ma’thuf) berupa mufrad, bukan jumlah. Makna bal (بَلْ) dengan ma’thuf mufrod itu tergantung pada kalam sebelumnya.

a. Idhrab (berpindah):

Jika sebelumnya berupa kalam mutsbat (kalimat positif), baik berbentuk khabar atau amr. Contoh:

قَامَ سَلِيْمٌ، بَلْ خَالِدٌ

Artinya: Salim bangkit, bahkan Khalid.

b. Istidrak (nusuli gunem-jawa):

Jika sebelumnya berupa nafi atau nahi. Contoh:

مَا قَامَ سَلِيْمٌ، بَلْ خَالِدٌ

Artinya: Tidaklah bangkit Salim, bahkan Khalid.

Namun, jika setelah bal berupa jumlah, maka bal bukan athaf tetapi sebagai huruf ibtida’ yang berfaidah idhrab ibthaly (الإضراب الإبطالي) atau idhrab intiqali (الإضراب الانتقالي).

Contoh idhrab ibtholi dalam Al-Quran:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ

Surah Al-Anbiya’ ayat 26 artinya: Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. أي بل هُم عبادٌ

Contoh huruf athaf bal dengan faidah idhrab intiqali dalam Al-Quran:

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

Surah Al-A’la ayat 15-16 artinya: Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.

8. Laa

Huruf laa (لاَ) berfungsi sebagai athaf jika ma’thufnya berupa mufrad dan jatuh setelah kalam mutsbat. Faidah laa adalah menetapkan hukum lafazh sebelumnya dan menafikan lafazh setelahnya (ma’thuf).

Baca Juga :  Pengertian Fi’il Amr dan Contohnya

Contoh penggunaan laa adalah:

جاءَ سعيدٌ لا خالدٌ

Artinya: Said datang, bukan Khalid. Laa menetapkan kedatangan pada Said dan menafikan kedatangan pada Khalid.

9. Lakin

Huruf lakin (لَكِنْ) berfungsi sebagai athaf jika tidak bersama wawu, ma’thufnya mufrad, dan didahului nafi atau nahi. Makna lakin adalah istidrak.

Contoh:

ما مررتُ برجلٍ طالحٍ، لكنْ صالحٍ

Artinya: Aku tidak berjalan bertemu orang jahat, tetapi orang shalih.

Jika lakin bersama wawu atau lafazh setelahnya berupa jumlah, maka lakin difungsikan sebagai huruf ibtida’, bukan athaf, baik kalam sebelum lakin manfi atau mutsbat.

Contoh dalam Al-Quran:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Surah Al-Ahzab ayat 40 artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

10. Imma

Imma (إِمَّا) adalah huruf yang diperdebatkan keberadaannya sebagai huruf athaf. Menurut pendapat yang lebih dominan, imma bukanlah huruf athaf, melainkan wawu yang biasanya bersamanya yang berperan sebagai huruf athaf.

Dalam konteks ini, imma diartikan sebagai memperinci dan umumnya diartikan sebagai “ada yang.”

Faidah imma serupa dengan huruf wawu athaf, yaitu takhyir (pilihan), ibahah (pembolehan), taqsim (pembagian), syak (keragu-raguan), dan ibham (penyamaran). Contoh penggunaan imma dalam Al-Quran:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Surah Al-Insan ayat 3 artinya: Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, yakni ada yang bersyukur dan ada pula yang ingkar.

Dengan demikian, imma dapat dianggap sebagai penegasan atau pemperinci dalam menyatakan bahwa ada dua kemungkinan atau pilihan yang diberikan, mirip dengan fungsi wawu athaf.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Athaf Nasaq.

Dalam menyimpulkan pembahasan mengenai Athaf Nasaq, kita dapat mengakui peran penting huruf-huruf athaf, terutama النسق (An nasaq), dalam membangun struktur kalimat bahasa Arab.

Athaf Nasaq tidak hanya menjadi perekat yang menyusun kalimat dengan rapi, tetapi juga memberikan nuansa makna yang kaya dan terperinci.

Melalui pemahaman Athaf Nasaq, kita dapat memahami bagaimana huruf-huruf tersebut menjadi jembatan penting antara konsep-konsep dalam bahasa Arab, memberikan nuansa tersendiri pada kalimat-kalimat yang dihasilkan.

Dengan memiliki pemahaman yang baik tentang Athaf Nasaq, kita dapat lebih mahir dalam membaca, memahami, dan mengonstruksi kalimat bahasa Arab dengan lebih efektif.

Oleh karena itu, menggali lebih dalam konsep ini adalah langkah yang sangat bernilai bagi para pelajar dan pecinta bahasa Arab.

Semoga pemahaman mengenai Athaf Nasaq ini dapat memberikan kontribusi positif dalam perjalanan pembelajaran dan pemahaman kita terhadap kekayaan struktur bahasa Arab.

Terimakasih telah membaca artikel Athaf Nasaq ini, semoga informasi mengenai Athaf Nasaq ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *