Nadhom

Peran Nadhom dalam Pendidikan Agama di Pesantren – Tantangan dan Manfaatnya

Diposting pada

Hasiltani.id – Peran Nadhom dalam Pendidikan Agama di Pesantren – Tantangan dan Manfaatnya. Pesantren, sebagai salah satu institusi pendidikan Islam tradisional, memiliki peran yang penting dalam mendidik generasi muslim yang memiliki pemahaman agama yang kokoh.

Salah satu aspek utama dalam pendidikan agama di pesantren adalah melalui bentuk nadhom atau syair-syair agama.

Nadhom telah lama menjadi tulang punggung pembelajaran di pesantren, memainkan peran kunci dalam pengembangan pemahaman agama dan hafalan kitab suci.

Dalam artikel ini, Hasiltani akan mengulas pentingnya pendidikan agama dalam bentuk nadhom di pesantren, serta tantangan dan manfaat yang terkait dengan pengajaran dan pembelajaran nadhom ini.

Nadhom

Nadhom atau nadzom, yang tertulis dalam huruf Arab النَّظْمُ, merupakan salah satu istilah yang sering digunakan oleh umat Islam. Istilah ini memiliki berbagai penggunaan, terutama dalam konteks dakwah.

Selain sebagai alat untuk menyebarkan dakwah, istilah nadhom juga memiliki keterkaitan yang erat dengan dunia pendidikan Islam, terutama dalam konteks pendidikan di Madrasah, Ma’had Aly, dan tentu saja pondok pesantren.

Hampir semua pondok pesantren di Indonesia, bahkan di berbagai belahan dunia, menggunakan metode nadzom ini sebagai cara pembelajaran yang efektif. Metode ini diyakini dapat membantu mencapai berbagai tujuan pendidikan yang diinginkan.

Pengertian Nadhom

Dari sudut pandang bahasa, istilah “nadhom” terdiri dari huruf ن ظ م yang membentuk kata نَظْمُ. Kata ini memiliki bentuk mashdar, berasal dari bentuk pentashrifan fiil madhi “nadzoma”:

نَظَمَ يَنْظِمُ نَظْمًا ونِظامًا، dan sebagai hasilnya, orang yang melakukan tindakan ini disebut “nāẓim” (نَاظِمٌ).

Menurut Kamus Tajul ‘Arus, makna “nadzom” adalah:

النَّظْمُ: Penyusunan dan penggabungan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Setiap kali Sobat mengaitkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, itu berarti Sobat sedang “nadzomkan” keduanya.

Arti “nadzom” dalam banyak kamus bahasa Arab tidak jauh berbeda dengan yang dijelaskan oleh Taj al Arus di atas. Beberapa kamus bahkan menambahkan keterangan bahwa itu terkait dengan penyusunan dalam urutan tertentu.

Baca Juga :  Menelusuri Contoh Isim Jamak Mudzakkar Salim

Di dalam pesantren, makna “nadhom” tidak jauh berbeda dengan makna harfiah yang telah disebutkan sebelumnya. Di lembaga pendidikan ini, “nadhom” didefinisikan sebagai rangkaian kalimat atau bait-bait syair yang memperhatikan unsur rima atau qofiyah dengan gaya penyusunan mengikuti pola-pola syair Arab.

Dalam kata sederhana, “nadzom” dapat didefinisikan sebagai bait-bait syair yang padat dalam konten materinya. Bait-bait ini bisa ditulis dalam bahasa Arab atau bahkan bahasa Jawa (dan Sunda). Namun, yang paling dominan dalam kurikulum pesantren adalah nadzom berbahasa Arab.

Unsur serasi dan padat dalam arti menjadi nilai utama dari sebuah nadzom. Nilai-nilai ini sering ditemukan dalam mukaddimah nadzom, ketika seorang Kyai Nadhim, istilah yang digunakan pesantren untuk menyebut pengarang atau penyusun kitab, memperkenalkan nadzom yang ia tulis kepada calon pembacanya.

Sebagai contoh, dalam mukaddimah nadzom Alfiyah ibnu Malik, Imam Malik mengungkapkan kelebihan dan keunggulan nadzomnya dengan bait berikut:

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوجَزِ – وَتَبْسُطُ البَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Kata-kata “lafazh mujaz” dan “taqrib” dalam bait ini mewakili tema utama nadzom. “Mujaz” atau “ijaz” berarti singkat dan padat; penuturannya ringkas namun kaya akan isi. Sementara “taqrib” berarti mendekatkan, yang berarti keberadaan nadzom memudahkan pemahaman dalam ilmu yang diajarkan. Istilah “taqrib” ini juga ditemukan dalam nadzom al-Imrithi:

نَظَمْتُهَا نَظْمًا بَدِيْعًا مُقْتَدِي – بِاْلاَصْلِ فِى تَقْرِيْبِهِ لِلْمُبْتَدِى

Dan mungkin masih banyak lagi penggunaan istilah ini atau sinonimnya dalam berbagai nadzom yang berbeda.

Kelebihan Kalam Nadhom dibandingkan dengan Kalam Natsar

Jika Kalam Nadhom adalah ungkapan yang berbentuk syair, sering kali dalam bentuk bait, maka Kalam Natsar adalah ungkapan yang berbentuk narasi.

Contoh Kalam Natsar dapat ditemukan dalam tulisan yang Sobat sedang membaca ini.

Nadhom

Setiap bentuk, baik nadhom maupun prosa, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Salah satu keunggulan dari Kalam Nadhom, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah singkat dan padat, serta enak untuk didendangkan karena berbentuk syair dengan pola tertentu.

Pola yang dimaksud di sini adalah pola-pola syair Arab seperti yang diatur dalam Ilmu Arudh dan Qofiyah, dan salah satu pola yang populer adalah “bahar rojaz”.

Baca Juga :  Arti dari Musytaq Jiddan dan Penjelasannya

Dengan mengikuti pola ini, nadhom dapat didendangkan dengan berbagai jenis model selama masih sesuai dengan aturan bahar tersebut.

Seperti yang kita lihat dalam fenomena viral saat ini, banyak nadhom yang dinyanyikan dan didendangkan dengan menggubah lagu-lagu tertentu.

Namun, perlu diakui bahwa aransemen lagu dangdut dan India sangat populer digunakan sebagai pengiring nadhom. Mereka dua serasi seperti pasangan yang cocok.

Keunikan nadhom yang mudah didendangkan ini semakin menarik jika diiringi oleh instrumen musik. Meskipun tidak menggunakan alat musik modern, para pelajar, khususnya santri, merasa senang dan bahagia menggunakan alat-alat sederhana seperti ember, wajan, cibuk, atau gayung yang mereka tabuh sebagai alat musik.

Jika tidak ada instrumen musik, mereka masih bisa menciptakan bunyi-bunyian sebagai pengiring nadhom dengan tangan kosong, seperti bertepuk tangan atau menggunakan sajadah yang dilipat dan ditabuh, dan lain sebagainya.

Namun, sejauh ini, belum ada penggunaan music beatbox sebagai pengiring nadhom. Mungkin akan menarik untuk melihat bagaimana kolaborasi ini akan terdengar.

Biasanya, kegiatan penadhoman ini dilakukan secara massal dan memiliki berbagai istilah seperti takroran, tikroran, lalaran, nadzaman, atau lainnya.

Kegiatan ini sering dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dan juga dalam bentuk mingguan. Tujuannya adalah untuk mengulang materi nadhom agar lebih tertanam dalam hafalan.

Meskipun cara nadzaman dengan iringan musik ini mungkin tidak selalu diterima atau terbatas dalam penggunaan instrumen dan aransemen, namun tidak bisa disangkal bahwa cara ini sangat menyenangkan dan meninggalkan kenangan yang berkesan.

Nadhom dalam Pendidikan di Pesantren

Bagi siapa saja yang pernah mengecap pengalaman nyantri di pesantren, nadhom pasti sudah tidak asing lagi. Tidak jarang, nadhom menjadi momok yang mengintimidasi sebagian besar santri, terutama di tingkat Tsanawiyah/Wustha atau Aliyah/Ulya. Mungkin Sobat juga pernah mengalami hal ini.

Biasanya, di tingkat tersebut, para santri diharuskan untuk menghafal ratusan, bahkan ribuan nadhom. Hafalan ini bisa menjadi syarat kelulusan, penilaian, atau hanya tugas harian yang harus mereka penuhi.

Yang jelas, hafalan nadhom menjadi sebuah kewajiban yang tak bisa dihindari. Jika tidak, sanksi tegas sudah menanti.

Contohnya, di salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia, yaitu Ponpes Lirboyo, Kang dan Mbak Santri diharuskan untuk menyerahkan hafalan nadhom beserta qauluhu-nya sebelum pelajaran dimulai, semuanya dalam bahasa Arab.

Baca Juga :  Pengertian, Pembagian Fail dan Contohnya

Dalam dunia pesantren, khususnya di kalangan santri, nadhom seolah menjadi makanan pokok. Nadhom adalah sesuatu yang pasti ada dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pesantren. Tanpa nadhom, rasanya pesantren belum “kenyang.”

Masalah yang Terkait dengan Nadhom

Permasalahan yang terkait dengan nadhom, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebenarnya bukan berasal dari sifat nadhom itu sendiri.

Masalah muncul karena kewajiban untuk menghafal nadhom, yang tidak selalu setiap santri siap untuk melaksanakannya dengan konsistensi yang diperlukan.

Selain itu, adanya tekanan untuk pertanggungjawabkan hasil hafalan nadhom biasanya di akhir tahun pembelajaran dapat membuat nadhom menjadi mimpi buruk bagi sebagian pelajar.

Tujuan awal nadhom yang dirancang untuk memudahkan pembelajaran justru dapat menjadi kontraproduktif ketika pelajar menganggapnya sebagai masalah.

Untuk mengatasi permasalahan ini, berikut beberapa cara yang dapat membantu pelajar menguasai nadhom:

Contoh Nadhom yang Bermanfaat:

  1. Nadhom Alfiyah Ibnu Malik
  2. Nadhom Aqidatul Awam
  3. Nadhom Asmaul Husna
  4. Nadhom Alala
  5. Nadhom Imrithi
  6. Nadhom Maqsud
  7. Nadhom Tuhfatul Athfal
  8. Nadhom Hidayatus Shibyan
  9. Nadhom Awamil

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Nadhom.

Dalam dunia pesantren, nadhom merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan tradisional Islam.

Meskipun seringkali menjadi tantangan bagi sebagian pelajar, nadhom tetap menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan pemahaman dan hafalan mereka terhadap ajaran agama.

Dengan berbagai cara dan upaya yang ditempuh, para santri belajar untuk mengatasi permasalahan yang muncul seputar nadhom.

Semua ini dilakukan dengan tekad dan semangat untuk mempertahankan warisan budaya dan ilmu pengetahuan yang kaya dalam dunia pesantren.

Dengan demikian, nadhom tetap menjadi bagian tak tergantikan dalam perjalanan pendidikan di pesantren, mengukir kenangan dan keterampilan berharga yang akan dibawa sepanjang hayat mereka.

Terimakasih telah membaca artikel Nadhom ini, semoga informasi mengenai Nadhom ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *