Surah al-Ala Ayat 18-19

Surah Al-Ala Ayat 18-19 dan Kandungannya

Diposting pada

Hasiltani.id – Surah Al-Ala Ayat 18-19 dan Kandungannya. Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, menggali makna dan hikmah dari ayat-ayat Al-Qur’an menjadi suatu perjalanan mendalam yang penuh berkah.

Salah satu surah yang memaparkan ajaran Ilahi dengan kekayaan makna adalah Surah Al-Ala. Khususnya, Ayat 18-19 menjadi sorotan penting yang memberikan pencerahan tentang konsep keberuntungan sejati dalam kehidupan.

Dengan merenungkan setiap kata dan pesan yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut, kita dapat membuka pintu menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang tugas kita sebagai hamba Allah.

Mari kita jelajahi dengan penuh ketakwaan dan hati yang tulus, menggali kearifan yang tersembunyi dalam Surah Al-Ala Ayat 18-19.

Mengenai Surah Al-Ala

Sebelum membahas mengenai Surah al-Ala Ayat 18-19, simak penjelasan mengenai Surah Al-Ala ini.

Surah Al-Ala adalah surah ke-87 dalam Al-Qur’an, dan termasuk dalam juz 30. Surah ini terdiri dari 19 ayat dan merupakan salah satu surah pendek dalam Al-Qur’an.

Surah Al-Ala dimulai dengan menyebutkan sifat Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, yang senantiasa layak untuk dipuji dan disembah oleh seluruh makhluk.

Surah ini mengandung peringatan agar manusia senantiasa mengingat Allah, sang Pencipta, yang memiliki keagungan dan kekuasaan yang tak terbatas.

Surah Al-Ala menekankan bahaya sikap lupa dan ingkar terhadap Allah. Manusia diingatkan agar tidak terlena oleh kesenangan dunia sehingga melupakan tujuan hidup sejati, yaitu ibadah kepada Allah.

Surah ini menyatakan bahwa orang yang membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah dengan takwa akan mendapatkan pahala yang besar di akhirat.

Surah Al-Ala mengingatkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatan baik dan buruknya. Setiap amal perbuatan akan diperhitungkan di hadapan Allah.

Surah ini menegaskan pentingnya menjauhi sikap sombong dan menyombongkan diri. Manusia diingatkan agar tetap rendah hati di hadapan kebesaran Allah.

Surah Al-Ala mengandung pelajaran moral dan spiritual yang mendalam, mengajak manusia untuk merenung dan meresapi makna kehidupan serta tujuan sejati di dunia ini.

Bacaan Surah Al-Ala Ayat 18-19 Arab, Latin dan Artinya

Berikut adalah bacaan Surah al-Ala Ayat 18-19 arab, latin dan terjemahannya:

اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ

Inna haazaa lafis suhu fil uulaa

Artinya: Sesungguhnya hal ini terdapat di dalam kitab-kitab yang telah ada sejak dahulu.

صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى ࣖ

Suhufi Ibraahiima wa Muusaa

Artinya: (yaitu) kitab-kitab yang dimiliki oleh Ibrahim dan Musa.

Baca Juga :  Bacaan Kitab Maulid Simtudduror dan Manfaatnya

Penjelasannya:

‘Inna hadza’ (إِنَّ هذا), inna merupakan kata penguat atau kata pendahulu yang serupa dengan kata kerja. Fungsinya adalah menasabkan subjek (ism) dan mengangkat predikat (khabar).

‘Hadza’ berperan sebagai kata ganti yang merujuk pada inna, dan memiliki status gramatika yang tinggi karena menjadi subjek dari inna.

‘Lafis shuhufi’ (لَفِي الصُّحُفِ), La (lam) adalah huruf penegas, ‘fi’ adalah kata depan yang menunjukkan posisi, dan ‘as shuhufi’ adalah frasa yang menjadi objek dari ‘fi’. Frasa ‘lafis shuhufi’ berfungsi sebagai khabar dari inna.

‘Al Ula’ (الْأُولى ) adalah frasa sifat atau na’at yang menjelaskan objek ‘shuhuf’. Al Ula dinyatakan dalam bentuk muannats (jamak perempuan), dan bentuk mudzakarnya adalah al Awwal.

Penulisan al Ula sebagai jar disebabkan oleh kesesuaian dengan i’rab (tanda baca) pada kata ‘shuhuf’.

‘Shuhufi Ibrahima’ (صُحُفِ إِبْراهِيمَ) menjelaskan lebih lanjut tentang objek ‘shuhuf’. ‘Shuhuf’ merupakan bentuk jamak taksir (jamak tak tentu), dan ‘Ibrahima’ berperan sebagai sifat (mudhaf ilaih) dari ‘shuhuf’.

Pembacaan ‘jar’ pada ‘Ibrahima’ disesuaikan dengan irob (tanda baca) yang terdapat pada kata ‘shuhuf’.

‘Wa Musa’ (وَمُوسى) menggunakan huruf ‘wa’ sebagai penghubung antara dua frasa. ‘Musa’ adalah objek dari ‘wa’ dan berfungsi sebagai sambungan dari ‘Ibrahima’.

Irob pada ‘Musa’ disesuaikan dengan irob pada ‘Ibrahima’ karena keduanya terkait secara gramatikal.

Arti Suhuf dalam Surah Al-Ala Ayat 18-dan 19

Dalam ayat 18 dan 19 dari Surah Al-A’la, terdapat dua kata “Shuhuf”. Kata “shuhuf” ini sebenarnya merupakan bentuk jamak taksir dari kata “shahifah” (‌صَحِيفة), yang berarti lembaran atau halaman.

Selain dari ‘shuhuf’, terdapat juga bentuk jamak lain dari kata “shahifah”, seperti “shaa’if” (صَحائفُ), “Shihaaf” (صِحَاف), dan “sahiifaat” (صَحيفات). Yang terakhir ini adalah contoh jamak muannats salim.

Dengan demikian, secara harfiah, “shuhuf” dapat diartikan sebagai lembaran-lembaran atau kumpulan halaman. Dari sini, muncul istilah “mushaf” (مُصْحَف) yang memiliki arti harfiah kumpulan lembaran atau halaman.

Dalam konteks ayat 18-19 Surah Al-A’la, “shuhuf” mengacu pada lembaran-lembaran yang berisi wahyu ilahi (samawi) yang diberikan kepada para nabi dan rasul.

Oleh karena itu, ayat-ayat ini menyiratkan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Musa juga menerima wahyu dari Allah SWT dalam bentuk “shuhuf” yang isinya umumnya mencakup ajaran tauhid yang bersinambungan dari zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Musa hingga zaman Nabi Muhammad.

Perbedaan Suhuf dengan Kitab Suci

Allah SWT berbicara dalam Surah Al-Baqarah ayat 4 sebagai berikut:

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
Artinya:

“dan orang-orang yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu, serta Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, dan mereka meyakini adanya kehidupan akhirat.”

Baca Juga :  Kandungan Surah Yunus Ayat 40-41 - Ajaran Toleransi dan Tanggung Jawab dalam Al-Quran

Perbedaan antara kitab dan suhuf, sebagaimana dimaksud dalam ayat tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kitab:
  • Kitab merujuk pada kumpulan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada rasul-Nya dalam kurun waktu tertentu.
  • dihasilkan dari pengumpulan wahyu yang dicatat secara sistematis sesuai petunjuk dari rasul-Nya. Kitab memiliki bentuk fisik yang terstruktur dan terorganisir.
  • Taurat, Injil, dan Al Quran adalah contoh kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi tertentu dalam sejarah.
  1. Suhuf:
  • Suhuf merujuk pada lembaran-lembaran wahyu Allah yang diturunkan kepada rasul-Nya. Suhuf ini mencakup berbagai media seperti kertas, kulit onta, daun, dan lain sebagainya.
  • Suhuf memiliki bentuk fisik yang lebih sederhana dan individual, seperti lembaran-lembaran terpisah yang mencatat wahyu yang diterima oleh rasul.
  • Suhuf yang diturunkan kepada nabi-nabi seperti Syits, Idris, Ibrahim, dan Musa sebelum penurunan kitab-kitab utama seperti Taurat.

Persamaan Suhuf dengan Kitab Suci

Seperti yang dibahas dalam Surah Al-Ala ayat 18-19 yang menjelaskan ajaran dalam shuhuf Nabi Ibrahim dan Musa, perbandingan antara shuhuf dan kitab suci menunjukkan kesamaan dalam ajaran tauhid dan ajakan agar manusia selamat di dunia dan akhirat.

Penting dicatat bahwa isi atau bahkan teks Surah Al-Ala ini sebagian besar terdapat dalam shuhuf yang diterima oleh kedua nabi tersebut (lihat tafsir Surah Al-Ala ayat 18-19).

Ini berarti bahwa pesan atau isi dari Surah Al-Ala juga merupakan bagian dari, terutama, kandungan shuhuf Nabi Ibrahim dan Musa.

Kesamaan ajaran tauhid dan ajakan untuk mencari keselamatan di dunia dan akhirat dalam shuhuf dan kitab-kitab suci menegaskan kelanjutan ajaran Ilahi yang disampaikan melalui berbagai nabi.

Dengan kata lain, pesan yang disampaikan dalam Surah Al-Ala sejalan dengan ajaran yang terdapat dalam shuhuf Nabi Ibrahim dan Musa serta kitab-kitab suci lainnya.

Jumlah Suhuf

Menurut penjelasan dalam Shahih Ibn Hibban, Allah memberikan seratus empat kitab (termasuk shuhuf) kepada para nabi dan rasul-Nya. Rincian ke-104 kitab tersebut adalah sebagai berikut:

  • 50 shahifah turun untuk Nabi Syis/Syith.
  • 30 shahifah turun untuk Nabi Idris (Ukhnukh).
  • 10 shahifah turun untuk Nabi Ibrahim.
  • 10 shahifah turun untuk Nabi Musa sebelum Kitab Taurat.
  • 4 Kitab Suci (Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an).

Jika shuhuf dan kitab suci dibedakan, maka terdapat 100 suhuf dan 4 kitab suci. Perlu ditekankan dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban tersebut bahwa semuanya, baik shuhuf maupun kitab suci, turun dari Allah Swt.

Tafsir Surah al-Ala Ayat 18-19

Kata “Hadza” merupakan kata tunjuk yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang ditunjuk atau musyarah ilaih. Dalam merujuk pada musyarah ilaih ini, terdapat beberapa pendapat yang berkaitan dengan tafsir Surah Al-Ala ayat 18-19 itu sendiri.

Baca Juga :  Iksir atau Orang Barat Menyebut Elixir Berwujud Air Liur Rasulullah SAW

Pendapat pertama, sebagaimana ditemukan dalam beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Jalalain, menyatakan bahwa “Hadza” merujuk pada ‘iflah dan akhirat’ (إفلاح من تزكى وكون الآخرة خيرا).

Dalam konteks ini, tafsiran menyatakan bahwa pesan yang terkandung dalam ayat tersebut adalah bahwa keberuntungan bagi orang yang membersihkan dirinya (tazkiyah) dan memperhatikan kehidupan akhirat itu lebih baik, dan hal ini sungguh-sungguh terdapat dalam shuhuf.

Pendapat kedua, menurut Ibnu Abbas, menyatakan bahwa seluruh teks Surat Al-A’la juga terdapat dalam suhuf yang diterima oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

Pendapat ketiga menyatakan bahwa pokok atau pesan yang disampaikan dalam Surat Al-A’la sesuai dan sejalan dengan apa yang terdapat dalam suhuf yang diterima oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

Dengan demikian, tafsir atas kata “Hadza” dalam Surah Al-A’la ayat 18-19 dapat berkaitan dengan keberuntungan bagi mereka yang membersihkan diri dan memperhatikan akhirat, kesesuaian teks Surat Al-A’la dengan suhuf Ibrahim dan Musa, serta keselarasan pesan yang disampaikan dalam Surat Al-A’la dengan isi suhuf tersebut.

Kandungan Surah al-Ala Ayat 18-19

Ayat 19 berfungsi sebagai badal atau pengganti dari kata ‘shuhufil Ula’ yang terdapat pada ayat 18. Badal, dalam konteks ini, memiliki faidah (manfaat) tanshish atau penjelasan.

Dengan demikian, kandungan Surah Al-Ala ayat 18 dan 19 memberikan penjelasan dan penguatan terhadap keseluruhan isi Surat Al-A’la.

Ayat ini mengindikasikan bahwa semua ajaran yang terdapat dalam surat ini berkerja sama dan bahkan sepenuhnya sejalan dengan ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para nabi sebelumnya melalui suhuf-suhuf mereka.

Dengan kata lain, ayat 18-19 ini menjelaskan dan memperkuat isi ayat-ayat sebelumnya, menegaskan bahwa pesan yang terkandung dalam Surah Al-A’la adalah kesinambungan dan kelanjutan dari ajaran-ajaran yang telah diberikan kepada para nabi sebelumnya melalui lembaran-lembaran wahyu.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Surah al-Ala Ayat 18-19.
Dengan demikian, Surah Al-Ala Ayat 18-19 menjadi pencerahan bagi kita dalam menapaki kehidupan dengan menjaga kesucian batin dan mengingat nama Rabb kita.

Pesan keberuntungan sejati yang terkandung dalam ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan yang penuh dengan pengabdian kepada Allah, kesadaran akan kehidupan akhirat, dan ketaatan dalam menjalankan shalat adalah kunci menuju kebahagiaan sejati.

Mari kita terus merenungkan makna mendalam dari Surah Al-Ala Ayat 18-19, agar kita senantiasa menjadi hamba yang mendapatkan keberuntungan hakiki di dunia dan akhirat.

Terimakasih telah membaca artikel Surah al-Ala Ayat 18-19 ini, semoga informasi mengenai Surah al-Ala Ayat 18-19 ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *