Ruwatan Wage Pahing

Cara Melakukan Ruwatan Wage Pahing yang Efektif Buang Sial

Diposting pada

Hasiltani.id – Cara Melakukan Ruwatan Wage Pahing yang Efektif Buang Sial.Ruwatan Wage Pahing merupakan salah satu tradisi spiritual yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Dalam artikel ini, Hasiltani akan memberikan panduan lengkap tentang cara melakukan ruwatan Wage Pahing yang efektif.

Dengan mengikuti langkah-langkah yang tepat, Sobat dapat menjalankan ritual ini dengan baik dan mendapatkan manfaat spiritual yang diharapkan.

Jodoh Gehing (Geyeng)

Setiap weton memiliki hari naas dan hari baik. Hari naas adalah hari yang dianggap tidak baik untuk melaksanakan acara, bepergian, dan sebagainya.

Hari naas ini juga dihubungkan dengan keadaan kelemahan seseorang. Oleh karena itu, itulah mengapa orang tua kita selalu memberi peringatan agar weton kita tidak diketahui oleh banyak orang.

Namun, untuk hari baik, itu menjadi acuan dalam melangsungkan acara pernikahan, termasuk ijab kabul dan resepsi.

Jodoh geyeng merujuk pada perjodohan antara pasaran wage dengan pasaran pahing. Ada pepatah yang mengatakan, “Weton ora pas tresnamu kandas,” yang berarti weton yang tidak cocok akan membuat cintamu berakhir.

Banyak yang membatalkan pernikahannya karena faktor jodoh geyeng ini. Namun, sebenarnya tidak semua pasaran wage dan pahing tidak cocok satu sama lain.

Apa itu Ruwatan Wage Pahing?

Bagi pasangan yang ingin menikah dan merasa terhalang oleh weton, jangan terburu-buru bersedih terlebih dahulu.

Meskipun orang tua atau calon mertua mungkin menentang pernikahan dalam weton wage pahing ini, saya memiliki solusinya.

Meskipun dipercaya bahwa weton wage dan pahing dianggap tidak cocok untuk menikah, dengan dikatakan bahwa pernikahan dalam weton tersebut akan menghasilkan keretakan, tidak langgeng, mudah bercerai, dan tidak harmonis.

Baca Juga :  Wirid Mustika Merah Delima untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Bahkan, dikatakan pula bahwa pernikahan dalam weton ini akan membawa sial dalam kehidupan pasangan tersebut, menghambat rezeki, dan sebagainya.

Namun, meskipun ada beberapa kejadian yang mendukung keyakinan tersebut, tidak semua kejadian selalu demikian. Jika Sobat khawatir dengan pernikahan dalam weton wage pahing ini, Sobat dapat melakukan ruwatan.

Ruwatan Wage Pahing adalah sebuah upacara keagamaan yang dilakukan pada hari pasaran Wage Pahing dalam penanggalan Jawa.

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan energi negatif yang ada dalam diri seseorang atau dalam suatu tempat.

Melalui ruwatan, seseorang diharapkan dapat mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, dan keberuntungan dalam kehidupan sehari-hari.

Mitos Larangan Pahing dan Wage

Mitos tentang larangan pernikahan antara weton Pahing dan Wage dapat dianggap sebagai sekadar cerita tanpa dasar yang kuat.

Sebenarnya, mitos ini hanya didasarkan pada karakteristik dan sifat individu tanpa mempertimbangkan filosofi di balik kedua weton tersebut.

Jika kita melihat horoskop Jawa, weton Pahing dan Wage sebenarnya saling melengkapi satu sama lain dan memiliki kecocokan.

Ada hal-hal yang tidak dimiliki oleh weton Pahing namun dimiliki oleh weton Wage, dan sebaliknya. Oleh karena itu, mitos tentang larangan pernikahan antara kedua weton tersebut bisa jadi tidak benar.

Dalam konteks aura, diketahui bahwa Wage dianggap sebagai penguasa Cakra Ajna, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki insting yang tajam dan melaksanakan ritual dengan baik.

Selain itu, sosok yang berasal dari weton Wage sangat berpotensi untuk hidup bersama karena mereka cenderung bekerja keras dan murah hati.

Diyakini bahwa mereka akan mendapatkan rezeki yang melimpah dan mencapai kesuksesan dalam pekerjaan apapun jika mereka tekun dan mau belajar.

Mitos atau larangan pernikahan ini merupakan kepercayaan yang dipercayai oleh beberapa orang namun tidak oleh yang lainnya. Tentu saja, hal ini hanyalah kepercayaan adat dan tidak bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Baca Juga :  Cara Membedakan Bulu Perindu Asli dan Palsu, Jangan Keliru

Mitos larangan ini memiliki tujuan untuk menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian. Jika Sobat dan pasangan memiliki weton Pahing dan Wage, dan merasa khawatir untuk melangsungkan pernikahan, Sobat dapat melakukan ruwatan sebelum pernikahan sebagai langkah pencegahan.

Cara Ruwatan Wage Pahing dengan Media Garam

Berikut adalah cara yang paling mudah untuk ruwatan Wage Pahing menggunakan Garam Ruwatan Sengkolo yang saya sediakan.

Garam Ruwatan Sengkolo merupakan sarana berenergi spiritual yang digunakan untuk membersihkan diri dengan tujuan menghilangkan sengkala atau nasib buruk, serta membantu menghilangkan aura negatif di dalam diri seseorang.

Berbeda dengan kebanyakan ritual ruwatan yang rumit dan membutuhkan banyak mantra dan sesajen, Garam Ruwatan ini merupakan sarana praktis yang siap pakai.

Ketidakcocokan antara kedua weton ini disebabkan oleh adanya energi negatif yang berasal dari kedua weton tersebut dan akan bergabung menjadi satu ketika keduanya bersatu.

Oleh karena itu, bukanlah energi positif yang menyatu, melainkan energi negatif yang menjadi lebih dominan.

Oleh karena itu, Sobat dan pasangan membutuhkan Garam Ruwatan sebagai sarana untuk melawan energi negatif tersebut. Dengan menggunakan garam ini, energi negatif tersebut akan dibersihkan dan hilang selamanya.

Sobat tidak perlu lagi khawatir tentang keberlangsungan pernikahan, keberuntungan yang buruk, konflik yang sering terjadi, dan sebagainya.

Semua hal tersebut telah dinetralkan dan dijamin bahwa langkah Sobat berdua akan lebih lancar ke depannya.

Selain itu, Garam Ruwatan ini juga mampu membuka aura rezeki dan membuka aura positif bagi Sobat dan pasangan.

Penutup

Demikian artikel ini, Hasiltani.id telah membahas mengenai Ruwatan Wage Pahing. Bahwa mitos larangan pernikahan antara weton Pahing dan Wage tidak harus dijadikan patokan yang mengikat.

Baca Juga :  Manfaat Batu Badar Besi dan Cara Mengetes Keaslian

Kepercayaan ini dapat dianggap sebagai warisan budaya yang memengaruhi pandangan masyarakat dalam memilih pasangan hidup.

Namun, tidak ada aturan baku yang menghalangi kebahagiaan dan kesuksesan dalam pernikahan, terlepas dari weton yang dimiliki.

Yang terpenting, dalam membangun hubungan pernikahan yang harmonis dan bahagia, komunikasi, pengertian, dan kerja sama antara pasangan tetap menjadi kunci utama.

Meskipun kepercayaan dan tradisi memegang peranan penting dalam budaya kita, kebahagiaan sejati dalam pernikahan bergantung pada cinta, pengertian, dan komitmen yang kuat antara kedua pasangan.

Dengan demikian, tak perlu terlalu terpaku pada mitos atau larangan weton Pahing dan Wage. Yang lebih penting adalah memahami bahwa setiap pernikahan memiliki dinamika dan tantangan tersendiri.

Dengan saling mendukung, berkomunikasi, dan menghargai satu sama lain, pasangan dapat mengatasi hambatan apa pun, termasuk ketidakcocokan weton.

Ruwatan Wage Pahing dapat menjadi langkah spiritual yang membantu dalam proses pernikahan, tetapi yang paling penting adalah menjalani pernikahan dengan kasih sayang, kesabaran, dan komitmen yang kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *