Cacing Darah dan Cacing Sutera

Mengenal Perbedaan Cacing Darah dan Cacing Sutera yang Cukup Terkenal

Diposting pada

Hasiltani.id – Mengenal Perbedaan Cacing Darah dan Cacing Sutera yang Cukup Terkenal . Cacing merupakan hewan yang memegang peran penting dalam lingkungan. Beberapa jenis cacing yang dikenal antara lain cacing tanah, cacing pita, dan cacing darah. Kali ini, kita akan membahas dua jenis cacing yang cukup terkenal, yaitu cacing sutera dan cacing darah.

Meski keduanya memiliki nama yang sama-sama menarik, namun keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Berikut ini penjelasan lebih detail mengenai perbedaan keduanya.

Apa itu Cacing Darah?

Blood worm atau yang disebut juga cacing darah adalah jenis cacing yang hidup di perairan tawar. Tubuhnya panjang dan ramping dengan warna merah keunguan. Cacing darah hidup di dasar perairan dan memakan sisa-sisa makanan yang jatuh ke dasar perairan.

Cacing darah banyak digunakan sebagai umpan dalam olahraga memancing karena dianggap cukup efektif untuk menarik ikan ke permukaan perairan. Selain itu, cacing darah juga sering dijadikan pakan bagi ikan hias.

Apa itu Cacing Sutera?

Cacing sutera (Tubifex sp) memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pakan alami karena permintaannya yang tinggi di pasaran, terutama dari para pembudidaya ikan. Cacing sutera mengandung nutrisi yang cukup tinggi untuk pertumbuhan larva ikan.

Cacing sutera umumnya dapat ditemukan di daerah tropis dengan kondisi perairan yang berlumpur dan mengandung bahan organik. Bahan organik yang terurai dan mengendap di dasar perairan menjadi makanan utama bagi cacing sutera.

Cacing sutera memiliki warna tubuh yang dominan kemerah-merahan, dengan tubuh yang ramping, halus, dan memiliki panjang 1-2 cm. Menurut Dinda Suryadin et al., 2017 seperti yang dikutip dalam Lastris (2020), cacing sutera tidak memiliki insang sehingga sistem pernapasannya terjadi pada permukaan tubuh yang banyak mengandung pembuluh darah.

Baca Juga :  Manfaat Ikan Hiu - Mengungkap Fakta Penting untuk Kesehatan

Proses ini terjadi ketika cacing menyelamkan kepalanya ke dalam lumpur untuk mencari makan, sementara ujung ekornya akan diselonjorkan di atas permukaan lumpur untuk bernapas. Pardiansyah et al., 2014 yang dikutip dalam Lastris (2020) menyatakan bahwa lingkungan suhu antara 12-17 oC, pH antara 6,0-8,0, dan ketahanan hidup 24-96% merupakan kondisi yang optimal untuk pertumbuhan cacing sutera.

Proses budidaya cacing sutera dilakukan dengan cara manipulasi lingkungan untuk menyesuaikan kondisi lingkungan asli cacing sutera. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses budidaya cacing sutera adalah sumber air.

Hal ini sangat penting karena jika sumber air pada wadah budidaya tersumbat atau tidak ada pasokan air, media budidaya akan menjadi kering dan jika kondisi tersebut terus berlanjut, cacing sutera akan mati secara massal. Selain itu, peralatan yang digunakan dalam proses budidaya cacing sutera juga sangat sederhana, mudah didapatkan, dan memiliki harga yang terjangkau.

Perbedaan Antara Cacing Darah dan Cacing Sutera

Meskipun keduanya memiliki nama yang sama-sama menarik, cacing sutra dan cacing darah memiliki perbedaan yang signifikan. Beberapa perbedaan tersebut antara lain:

  • Habitat: Cacing sutra hidup di pohon murbei, sedangkan cacing darah hidup di dasar perairan.
  • Bentuk tubuh: Cacing sutra memiliki bentuk tubuh yang kecil dan silindris, sedangkan cacing darah memiliki bentuk tubuh yang panjang dan ramping.
  • Warna: Cacing sutra memiliki warna putih atau kekuningan, sedangkan cacing darah memiliki warna merah keunguan.
  • Kegunaan: Cacing sutra digunakan untuk memproduksi sutra, sedangkan cacing darah sering digunakan sebagai umpan atau pakan ikan.

Dimana Menemukan Cacing Darah dan Cacing Sutera?

Biasanya, jika Sobat Tani membeli cacing sutra dari peternakan di lahan terbuka, Sobat Tani dapat menemukan cacing darah di dalamnya, meskipun jumlahnya bisa bervariasi. Namun, karena ukurannya yang lebih besar, cacing darah kurang cocok untuk digunakan sebagai pakan hidup untuk larva lele berumur 4 atau 5 hari. Cacing darah lebih sering digunakan sebagai pakan untuk beberapa jenis ikan hias.

Baca Juga :  Mengenal Garangan dan Manfaat Daging Garangan

Keberadaan Cacing Darah dan Cacing Sutra

Selain kutu air, cacing darah juga sering ditemukan sebagai patokan kualitas perairan yang tidak tercemar. Namun, keberadaan cacing darah dalam jumlah besar di lahan peternakan cacing sutra dianggap sebagai masalah karena dapat menurunkan produksi cacing sutra.

Meski ada peternak yang melakukan pengeringan lahan untuk menghilangkan cacing darah, hal ini bisa jadi kurang tepat karena induk cacing darah bisa kembali ke lahan yang sama melalui akses nyamuk. Lebih baik menutup akses nyamuk ke lahan peternakan.

Meskipun pengeringan lahan memiliki efek samping seperti liburnya proses produksi cacing sutra, sterilisasi ulang pada lahan dan peremajaan media tumbuh dapat meningkatkan produksi cacing sutra pada musim tanam berikutnya.

Penutup

Demikian artikel Hasiltani mengenai cacing darah dan cacing sutera. Dalam dunia cacing, cacing darah dan cacing sutera merupakan dua jenis yang memiliki perbedaan yang menarik. Cacing darah, yang menjadi parasit dalam tubuh manusia dan hewan, menginfeksi usus dan menyebabkan penyakit cacingan.

Mereka memiliki tubuh pipih, segmen-segmen, dan menggunakan skoleks untuk menempel pada dinding usus inang. Di sisi lain, cacing sutera adalah serangga yang menghasilkan sutera alami yang sangat berharga. Mereka melalui tahap metamorfosis dari telur, ulat sutera, kepompong, hingga menjadi kupu-kupu sutera dewasa.

Perbedaan ini tidak hanya terletak pada penampilan dan lingkungan hidup mereka, tetapi juga pada peran dan manfaat yang mereka bawa. Sementara cacing darah menjadi penyebab penyakit, cacing sutera memberikan keindahan dan kegunaan dalam industri tekstil. Mengetahui perbedaan ini penting dalam memahami dan melindungi ekosistem yang rumit di sekitar kita.

Dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kesehatan manusia, penting bagi kita untuk memahami karakteristik dan perbedaan cacing darah dan cacing sutera. Dengan demikian, kita dapat mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi kesehatan kita dan memanfaatkan keindahan alam sekitar kita.

Baca Juga :  Manfaat Hewan Komodo dan Penjelasannya

FAQs

1. Apa perbedaan antara cacing darah dan cacing sutera?

  • Habitat: Cacing sutera hidup di pohon murbei, sedangkan cacing darah hidup di dasar perairan.
  • Bentuk tubuh: Cacing sutra memiliki bentuk tubuh yang kecil dan silindris, sedangkan cacing darah memiliki bentuk tubuh yang panjang dan ramping.
  • Warna: Cacing sutra memiliki warna putih atau kekuningan, sedangkan cacing darah memiliki warna merah keunguan.
  • Kegunaan: Cacing sutra digunakan untuk memproduksi sutra, sedangkan cacing darah sering digunakan sebagai umpan atau pakan ikan.

2. Dari mana cacing darah dan cacing sutera berasal? Cacing darah dan cacing sutera berasal dari keluarga Nereidae. Cacing sutra berasal dari Asia Timur, sedangkan cacing darah tersebar di seluruh dunia.

3. Bagaimana cara beternak cacing suters dan cacing darah? Cacing darah dan cacing sutera dapat dibiakkan di kolam atau wadah yang berisi air dengan kondisi lingkungan yang tepat. Untuk cacing sutra, lingkungan yang ideal adalah air bersuhu sekitar 22-28 derajat Celcius dan pH antara 6,5-8,0. Sedangkan untuk cacing darah, lingkungan yang ideal adalah air bersuhu sekitar 20-25 derajat Celcius dan pH antara 7,0-8,0.

4. Apa saja manfaat dari cacing darah dan cacing sutera? Cacing sutera digunakan untuk memproduksi sutra yang digunakan untuk membuat kain sutra, perlengkapan olahraga, dan kosmetik. Sedangkan cacing darah digunakan sebagai umpan atau pakan ikan.

5. Apakah cacing darah bisa merusak produksi cacing sutra? Terdapat beberapa laporan bahwa keberadaan cacing darah yang berlebihan di lahan cacing sutra dapat mengganggu perkembangan cacing sutera dan menurunkan produksinya. Namun, belum ada penelitian yang secara pasti membuktikan hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *