Taukid

Pengertian dan Pentingnya Taukid

Diposting pada

Hasiltani.id – Pengertian dan Pentingnya Taukid. Tajuk “Kekuatan Taukid dalam Bahasa Arab: تقوية التوكيدِ” telah menjadi subjek perbincangan yang menarik dalam studi bahasa Arab.

Taukid, atau penekanan dalam bahasa Arab, adalah salah satu elemen penting dalam komunikasi yang digunakan untuk menghilangkan keraguan dan memberikan kepastian dalam pengungkapan makna.

Bagaimana taukid bekerja, bagaimana itu dapat diperkuat, dan apa peran تقوية التوكيدِ dalam proses ini adalah tema yang akan kita eksplorasi dalam artikel ini.

Bahasa Arab, sebagai salah satu bahasa yang penuh dengan nuansa dan makna, memanfaatkan konsep taukid untuk mengungkapkan pesan dengan jelas dan tegas.

Taukid terdiri dari dua jenis utama, yaitu taukid lafdzi (توكيد لفظي) yang berfokus pada pengulangan kata-kata, dan taukid maknawi (توكيد معنوي) yang menggunakan kata-kata tambahan untuk memperkuat pesan.

Kedua jenis ini memiliki peran penting dalam mengkomunikasikan gagasan dan makna yang diinginkan.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi konsep-konsep dasar taukid, seperti pengulangan isim zhahir, dhamir, dan fi’il, serta penggunaan kata-kata tambahan seperti “أَجْمَع” (ajma’) untuk تقوية التوكيدِ.

Kita akan melihat contoh-contoh dari Al-Qur’an yang menggambarkan penggunaan taukid yang kuat dalam bahasa Arab dan bagaimana hal itu meningkatkan pemahaman makna dalam konteksnya.

Selain itu, kita akan memahami pentingnya kesesuaian antara muakkad dan muakkid dalam taukid serta bagaimana تقوية التوكيدِ dapat menguatkan kesatuan makna dalam kalimat.

Artikel ini juga akan membahas situasi di mana تقوية التوكيدِ digunakan tanpa kata “كُلّ” (kull) dan dampaknya terhadap kekuatan pesan.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang taukid dan peran تقوية التوكيدِ dalam bahasa Arab, pembaca akan memiliki alat yang lebih kuat untuk memahami dan menginterpretasikan teks-teks Arab dengan lebih akurat, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi dalam bahasa ini.

Mari kita terus menjelajahi konsep ini yang kaya akan makna dan nuansa dalam bahasa Arab yang indah.

Pengertian Taukid

Taukid التوكيد adalah sebuah bentuk mashdar (kata benda) dalam bahasa Arab yang menggunakan wazan (pola) تَفْعِيْلٌ dan memiliki makna sebagai isim fa’il, muakkid (kata benda pelaku yang memperkuat atau mengonfirmasi).

Dalam bahasa Arab, taukid dapat diucapkan dengan kata ta’kid, takid, atau ta’kiid, dan ketiganya memiliki arti yang sama.

Dari segi lughat (leksikon), taukid dapat diartikan sebagai التقوية penguatan, pengukuhan, atau konfirmasi. Arti ini memiliki cakupan yang luas dan dapat digunakan dalam berbagai konteks, termasuk penggunaan huruf taukid dan sebagainya.

Namun, dalam konteks yang dibahas dalam bab ini, kita akan fokus pada taukid lafdzi (secara lafazh atau kata) dan taukid maknawi (secara makna) yang terkait dengan kajian tawabi’.

Baca Juga :  Contoh Jumlah Ismiyah Dalam Al-Quran Beserta Terjemahannya

Dalam istilah ilmu bahasa Arab, taukid adalah Tabi’ yang berfungsi untuk menghilangkan kemungkinan, keraguan, atau anggapan yang salah atau tidak semestinya.

Sebagai contoh, jika kita mengatakan جاءَ عليٌّ (ja’a ‘Aliyun), artinya “Ali datang,” kalimat ini masih membawa kemungkinan atau keraguan mengenai siapa yang sebenarnya datang, apakah itu Ali sendiri atau seseorang yang mewakili Ali, atau mungkin surat dari Ali.

Oleh karena itu, diperlukan konfirmasi atau penguatan. Untuk tujuan tersebut, lafazh عليٌّ (Aliyun) diulang atau kata نَفْسُهُ (nafsuhu) ditambahkan setelahnya.

Kedua tindakan ini disebut muakkid, yang berarti sebagai konfirmasi bahwa yang datang adalah Ali sendiri dan pada saat yang sama menghilangkan anggapan-anggapan lain yang mungkin timbul.

Dengan demikian, taukid dalam bahasa Arab memiliki peran penting dalam menjernihkan makna dan menghilangkan keraguan dalam komunikasi lisan maupun tertulis.

Unsur Taukid

Sebelum kita melangkah lebih jauh, penting untuk mengenal dan memahami istilah-istilah yang terkait dengan bab tentang taukid.

Terdapat tiga istilah penting yang perlu kita pahami, yaitu:

1. Muakkid (مُؤَكَّدِ):

Istilah ini mengacu pada bagian dari kalimat atau ungkapan yang menjadi objek dari taukid. Dalam contoh جاءَ عليٌّ نَفْسُهُ, lafazh “Ali” (عليٌّ) disebut sebagai muakkid, yang artinya “yang ditaukidi.”

2. Muakkad (مُؤَكَّدِ):

Muakkad adalah istilah yang merujuk pada bagian dari kalimat atau ungkapan yang melakukan tugas taukid. Dalam contoh yang sama, lafazh “نَفْسُ” (nafs) dinamakan muakkid, yang artinya “yang menaukidi.”

3. Taukid (توكيد):

Taukid adalah hasil dari kombinasi muakkad dan muakkid dalam sebuah kalimat atau ungkapan.

Dalam contoh جاءَ عليٌّ نَفْسُهُ, taukid terdiri dari muakkad (Ali) dan muakkid (نَفْسُهُ), yang membentuk sebuah konstruksi yang kuat dan menghilangkan keraguan tentang makna kalimat.

Hukum Taukid

Taukid merupakan salah satu jenis tawabi’ dalam bahasa Arab, dan oleh karena itu, ia harus mengikuti matbu’ (kata benda atau kata ganti yang menjadi objek taukid) dalam hal i’rob (infleksi gramatikal).

Tawabi’ adalah kata-kata yang mengikuti atau terkait dengan kata benda atau kata ganti tertentu. Jadi, jika matbu’ (dalam hal ini muakkad) dalam keadaan marfu’ (kasus nominatif), maka tabi’ (muakkid) akan dibaca dalam bentuk rafa (kasus nominatif), dan sebaliknya.

Selain itu, antara muakkad dan muakkid harus serasi dalam hal ma’rifat (pengetahuan) atau nakirah (tanpa pengetahuan).

Secara umum, tidak disarankan untuk membuat taukid dari muakkad yang bersifat nakirah, tetapi jika nakirah pada muakkad tersebut memiliki manfaat (mufid), maka masih diperbolehkan.

Mufid berarti memiliki manfaat atau kegunaan. Manfaat ini dapat dicapai dengan pembatasan (mahdud) pada sifat nakirahnya, sementara lafazh muakkidnya memiliki cakupan yang luas dan menyeluruh (الإحاطة والشُّمول).

Baca Juga :  Doroba Artinya Dalam Bahasa Arab - Menyingkap Makna Mendalam Kata Doroba

Sebagai contoh, taukid nakirah dalam kalimat “اعتكفتُ أُسْبُوْعًا كلَّهُ” (a’takafu tusbu’an kullahu) artinya “Saya melakukan itikaf selama seminggu penuh.”

Meskipun kata “أُسْبُوْعًا” (usbu’an) dalam bentuk nakirah, namun batas waktunya telah ditentukan, yaitu 7 hari. Sementara kata “كُلَّ” (kull) berarti “seluruh” atau “penuh.” Jadi, tarkib (kombinasi) taukid ini dapat dibenarkan karena memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan sebelumnya.

Pembagian dan Contoh Taukid

Terdapat dua macam taukid dalam bahasa Arab, yaitu taukid lafdzi (تَوْكِيْد لَفْظِي) dan taukid maknawi (تَوْكِيْد مَعْنَوِي).

Taukid lafdzi adalah bentuk taukid yang dilakukan dengan mengulang lafazh itu sendiri (muakkad) atau dengan mendatangkan lafazh yang memiliki makna yang sama (sinonim atau muradif).

Pengulangan tersebut dapat terjadi pada semua jenis kalimah, termasuk isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan huruf (partikel atau konjungsi).

Pengulangan juga dapat diterapkan pada isim zhahir (kata benda nyata) maupun dhamir (kata ganti).

Contoh taukid lafdzi dengan pengulangan isim zhahir:

جَاءَ زَيْدٌ زَيْدٌ (ja’a Zaidun Zaidun) artinya “Zaid datang, Zaid.”

Contoh taukid lafdzi dengan pengulangan isim dhamir dalam al-Qur’an:

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ (Ya Adamu iskun anta wa zawjuka al-Jannata) artinya “…Hai Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga…”

Contoh taukid lafdzi dengan pengulangan fi’il:

جاءَ جاءَ عليٌّ (ja’a ja’a ‘Aliyun) artinya “Ali datang, Ali.”

Contoh taukid lafdzi dengan pengulangan huruf:

لا، لا أبوحُ بالسرّ (La, la abuuhu bissirr) artinya “Tidak, saya tidak akan mengungkapkan rahasia.”

Pengulangan juga dapat terjadi pada kombinasi ismiyah (kata benda) dan fi’liyah (kata kerja):

عَلِيٌّ مُجْتَهِدٌ عَلِيٌّ مُجْتَهِدٌ (‘Aliyun mujtahidun ‘Aliyun mujtahidun) artinya “Ali yang rajin, Ali yang rajin.”

Contoh taukid lafdzi dengan lafazh muradif (sinonim) adalah:

جَاءَ لَيْثٌ أَسَدٌ (ja’a Laitsun Asadun) artinya “Laits datang, harimau.”

Selain taukid lafdzi, ada juga taukid maknawi. Taukid maknawi melibatkan penambahan lafazh tertentu seperti “نَفْس” (nafs), “عَيْن” (‘ain), “جَمِيْع” (jami’), “عَامَّة” (‘ammah), “كُل” (kull), “كِلاَ” (kila), dan “كِلْتَا” (kilta).

Dalam penggunaannya, lafazh-lafazh ini harus diidhafahkan (digabungkan) dengan isim dhamir yang sesuai dalam bentuk jamak, tasniah, atau muanntas-mudzakkarnya.

Contoh taukid maknawi beserta artinya:

  • جَاءَ زَيْدٌ نَفْسُهُ (ja’a Zaidun nafsuhu) artinya “Zaid sendiri yang datang.”
  • جَاءَ زَيْدَانِ أنفُسهُمَا (ja’a Zaidani anfusuhuma) artinya “Dua Zaid sendiri yang datang.”
  • رأيتُ القومَ كُلَّهُمْ (ra’aytu al-qawma kulluhum) artinya “Saya melihat semua orang.”
  • أحسنتُ إلى فُقراءِ القَرْيَةِ عَامَّتِهم (ahsantu ila fuqara’i al-qaryati ‘ammatihum) artinya “Saya melakukan kebaikan kepada penduduk desa secara umum.”
  • جَاءَ الرجلانِ كِلاهُما (ja’a al-rajulani kilahuma) artinya “Dua pria itu datang, keduanya.”
  • جَائَتْ المَرْأتانِ كِلْتَاهُمَا (ja’at al-mar’ataini kiltahuma) artinya “Dua wanita itu datang, keduanya.”
Baca Juga :  Pengertian dan Contoh Nahwu Shorof

Perlu diperhatikan bahwa isim dhamir dalam taukid maknawi harus cocok dalam bentuk dengan muakkadnya.

Dalam beberapa kasus, penggunaan huruf jar ba’ zaidah juga dapat digunakan dalam taukid maknawi, seperti contoh “جَاءَ عليٌّ بنفسهِ” (ja’a ‘Aliyun binafsihi) yang berarti “Ali datang sendiri,” di mana i’robnya menunjukkan bahwa “نفسِ” (nafsi) dalam contoh tersebut berada dalam kasus majrur (jar).

Menaukidi Taukid

Taukid dapat dikuatkan lebih lanjut dengan istilah yang disebut تقوية التوكيد (taqwiyyat at-tawkid).

Cara membuatnya adalah dengan menambahkan kata “اَجْمَع” (ajma’) setelah muakkid “كُلّ” (kull). Antara “اَجْمَع” (ajma’) dan “كُلّ” (kull) ini juga harus serasi.

Berikut adalah beberapa kombinasi yang mungkin:

  1. “كُلّهُ أَجْمَع” (kulluhu ajma’) artinya “semuanya dengan sepenuhnya.”
  2. “كُلها جَمْعَاء” (kulluha jam’an) artinya “semuanya secara bersama-sama.”
  3. “كُلهم أَجْمَعِينَ” (kulluhum ajma’iin) artinya “semuanya bersama-sama.”
  4. “كُلهنَّ جُمَع” (kulluhunna jum’a) artinya “semuanya dalam keadaan berkumpul.”

Namun, terkadang “اَجْمَع” (ajma’) dan turunannya dapat ditambahkan tanpa didahului oleh lafazh “كُلّ” (kull), seperti yang terjadi dalam ayat-ayat berikut dalam Al-Qur’an:

“وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ” (wa la’ughwiyan nahum ajma’iin) dalam surah Sad ayat 82, yang berarti “…aku (Iblis) akan menyesatkan mereka semuanya.”

Dengan menambahkan تقوية التوكيد (taqwiyyat at-tawkid) ini, makna taukid menjadi lebih kuat dan mengedepankan konsep keseluruhan dan kesatuan dalam konteks kalimat atau teks yang digunakan.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Taukid.

Kita telah menjelajahi konsep taukid dalam bahasa Arab dan bagaimana تقوية التوكيدِ (taqwiyyat at-tawkid) memperkuatnya untuk memberikan kejelasan dan kepastian dalam komunikasi.

Taukid memiliki peran penting dalam memahami pesan yang disampaikan dalam teks-teks Arab, dan تقوية التوكيدِ adalah alat yang dapat memperkuatnya.

Dalam dunia bahasa Arab yang kaya akan nuansa dan makna, taukid adalah salah satu cara untuk mengungkapkan gagasan dengan jelas dan tegas.

Pengulangan kata-kata, penggunaan kata-kata tambahan, dan pemahaman yang tepat tentang kesesuaian antara muakkad dan muakkid adalah elemen-elemen kunci dalam memahami dan menggunakan taukid secara efektif.

Dengan pemahaman yang mendalam tentang konsep ini, kita dapat lebih baik menghargai kekayaan bahasa Arab dan mengungkapkan makna dengan kejelasan dan pasti. تقوية التوكيدِ (taqwiyyat at-tawkid) adalah alat yang memperkaya bahasa ini dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih kuat dan efektif.

Semoga artikel ini telah memberikan wawasan yang bermanfaat tentang pentingnya taukid dalam bahasa Arab dan peran تقوية التوكيدِ dalam memperkuatnya.

Dengan pengetahuan ini, kita dapat lebih mendalam dalam memahami bahasa Arab dan menggunakannya dengan lebih efektif dalam komunikasi kita sehari-hari.

Terimakasih telah membaca artikel Taukid ini, semoga bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *