Istisna

Apa itu Istisna? – Pembagian dan Contohnya

Diposting pada

Hasiltani.id – Apa itu Istisna? – Pembagian dan Contohnya. Dalam kekayaan bahasa Arab, istisna’ muncul sebagai salah satu konsep yang menarik dan esensial. Istisna’, yang secara harfiah mengacu pada ide ‘pengecualian’, bukan hanya sekedar mengubah struktur kalimat, tetapi juga memberi makna yang mendalam dan nuansa khusus dalam penyampaian pesan.

Apa sebenarnya istisna’ itu? Mengapa konsep ini penting dalam konteks bahasa Arab? Dan bagaimana ia mempengaruhi pemahaman kita terhadap teks-teks klasik seperti Al-Qur’an dan Hadits?

Dalam artikel ini, kita akan menyelami dunia istisna’, menjelajahi keunikan, relevansinya, dan dampaknya dalam sastra dan komunikasi Arab.

Mengenal Istisna

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “kecuali” didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak termasuk dalam kategori tertentu atau sesuatu yang berbeda dari yang lain. Kata ini memiliki kesamaan makna dengan kata “istisna’” dalam Bahasa Arab.

Ketika kita memperdalam ilmu tata bahasa Arab, khususnya pada pembahasan tentang tashrif, kita akan menemukan kata “اِسْتِثْنَاء” (Istinaa’). Kata ini mengikuti pola kata “اِسْتِفْعَالٌ” dan merupakan bentuk dasar dari kata “اسْتَثْنَى” (istastnaa). Adapun “istina’” berasal dari kata kerja “ثَنَى” (tsanaa), yang berarti membedakan, memisahkan, atau mengecualikan.

Dalam penggunaan sehari-hari dalam Bahasa Indonesia, ketika kita ingin mengecualikan sesuatu, kita cukup menggunakan kata “kecuali”. Misalnya, “Saya bersekolah selama seminggu kecuali 2 hari.” Sangat simpel dan langsung.

Namun, saat kita ingin mengekspresikannya dalam Bahasa Arab, kita tidak bisa hanya menambahkan kata “إِلَّا” (illa) yang berarti “kecuali” dan menganggap urusannya selesai.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan “istisna’”, seperti tata cara membaca (i’rob) kalimat yang mengikuti, hubungan antara kalimat sebelum dan setelah “istisna’”, dan lainnya.

Pembahasan tentang “istisna’” atau pengecualian dalam Bahasa Arab, khususnya dalam Ilmu Nahwu, adalah suatu topik yang sangat luas dan penting.

Alasannya adalah karena banyak aspek yang terkait baik dari segi pengucapan maupun arti. Keberadaan “istisna’” dalam sumber-sumber hukum, seperti Al-Quran dan Hadits, bisa mempengaruhi pemahaman dan interpretasi hukum.

Sebelum kita mendalami pembahasan “istisna”, kita perlu memahami berbagai istilah yang terkait dengan topik ini. Berikut adalah penjelasan sederhananya.

Istilah-istilah dalam Istisna

Dalam konsep istisna’ di dalam Bahasa Arab, terdapat beberapa istilah khusus yang digunakan.

Meskipun daftar berikut ini menjelaskan istilah-istilah tersebut secara singkat, pemahaman yang lebih mendalam dapat diperoleh dengan merujuk pada penerapan masing-masing istilah dalam konteksnya.

Di bawah ini adalah penjelasan mendetail dari istilah-istilah dalam istisna’:

1. Istina’:

Ini merujuk pada konsep pengecualian. Dalam konteks kalimat, hal ini berarti mengecualikan sesuatu dari suatu kategori atau kelompok.

Baca Juga :  Memahami Pengertian Athaf dan Peran Penting Huruf Athaf

2. Adawat istisna’:

Adalah alat atau media yang digunakan untuk melakukan pengecualian dalam suatu kalimat atau pernyataan.

3. Mustasna:

Ini adalah objek atau entitas yang dikecualikan dalam sebuah kalimat.

4. Mustasna minhu:

Merupakan sumber atau asal dari objek yang dikecualikan. Ini bisa menjadi referensi atau konteks dari pengecualian tersebut.

5. Istisna’ muttashil:

Dalam jenis pengecualian ini, objek yang dikecualikan (mustasna) adalah bagian dari sumber pengecualian (mustasna minhu). Ini juga dikenal sebagai tahqiq.

6. Istisna’ munqathi’:

Berkebalikan dengan muttashil, di sini, objek yang dikecualikan bukan merupakan bagian dari sumber pengecualian. Ini dikenal sebagai taqdir.

7. Kalam tam:

Ini adalah struktur kalimat di mana sumber dari pengecualian (mustasna minhu) disebutkan. Ini berlawanan dengan kalam naqish atau mufarraqh.

8. Kalam tam mujab:

Adalah bentuk kalam tam yang bersifat positif, di mana tidak ada negasi atau penafian yang terkandung di dalamnya.

9. Kalam tam manfi:

Berkebalikan dengan mujab, ini adalah bentuk kalam tam yang mengandung negasi atau penafian.

10. Kalam naqish:

Ini merupakan antonim dari kalam tam, di mana sumber dari pengecualian tidak disebutkan.

11. Mufarraqh (المفرغ):

Merupakan sinonim dari kalam naqish. Istilah lain yang serupa termasuk matruk(متروك) dan makhduf(محذوف).

12. Manshub:

Ini mengacu pada bentuk bacaan yang disebut nashob dalam tata bahasa Arab.

13. Badal:

Dalam tata bahasa Arab, badal mengacu pada kata atau frase yang menggantikan kata atau frase lain, baik dari segi makna maupun bentuk gramatikalnya (i’rob).

Pengertian Istisna

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, istisna’ الاستثناء dalam Bahasa Arab berarti “pengecualian”. Sementara Istina’ dalam konteks ilmu nahwu memiliki beragam definisi. Beberapa di antaranya adalah:

  1.  الإخْرَاجُ بِإلَّا أوْ إحْدَى أَخَوَاتِهَا مَا لَوْلَاهُ لَدَخَلَ فِي الكَلَامِ السَّابِقِ

Terjemahan:

Istina’ adalah suatu pengecualian dengan menggunakan ‘illa’ atau kata-kata yang sejenis, dimana jika tidak ada pengecualian, maka objek yang dikecualikan akan termasuk dalam konteks pernyataan sebelumnya.

  1.  إخْرَاجُ مَا بَعْدَ إِلَّا( أَوْ إِحْدَى أَخَوَاتِهَا مِنْ أَدَوَاتِ الْاِسْتِثْنَاءِ) مِنْ حُكْمِ مَا قَبْلَهُ

Terjemahan:

Istina’ adalah mengeluarkan kata yang ada setelah ‘illa’ atau kata-kata sejenis dari konteks yang ada sebelum ‘illa’. Dengan kata lain, Istisna’ didefinisikan sebagai proses pengecualian ‘mustasna’ dari ‘mustasna minhu’ dengan menggunakan alat pengecualian.

Sebagai contoh dari istisna’, kita memiliki kalimat: جاءَ القومُ إلاّ خالداً yang berarti “Semua orang datang kecuali Khalid”. Jika kita analisis, komponen-komponen kalimat tersebut adalah:

  • Jaa جاءَ yang berarti ‘datang’.
  • Kaum القومُ adalah subjek dan disebut ‘mustasna minhu’, atau objek yang dikecualikan.
  • Illa إلاّ adalah kata yang menandakan pengecualian.
  • Khalid خالداً adalah objek pengecualian atau yang disebut dengan ‘mustasna’.

Dengan demikian, saat seseorang mengatakan “Semua orang datang”, ini mengimplikasikan bahwa semua individu dalam kelompok tersebut hadir.

Namun, dengan menambahkan “kecuali Khalid”, hal ini menunjukkan bahwa Khalid adalah pengecualian dan dia tidak datang. Ini adalah prinsip dasar dari istisna’, atau yang juga dikenal sebagai istisna’ haqiqat.

Baca Juga :  Perbedaan Lafadz, Kalimah, Kalam, Kalim, dan Qaul dan Syarat Kalam

Dari penjelasan di atas, ada yang menyimpulkan bahwa salah satu tujuan atau fungsi dari istisna’ adalah untuk spesifikasi atau penyempitannya.

Dengan kata lain, istisna’ berfungsi untuk menspesifikasikan sesuatu dari konteks yang lebih umum dengan menggunakan alat pengecualian khusus.

Konsep ini juga dapat ditemukan dalam studi Ushul Fikih, khususnya pada topik Amm-Khash, serta dalam ilmu Mantiq dan lainnya.

Dalam konteks Fikih, khususnya pada bab tentang hutang, serta dalam Matematika, khususnya ilmu Hisab, istisna’ sering kali diartikan sebagai proses pengurangan. Namun, makna ini tetap sejalan dengan konsep dasar istisna’.

Dengan demikian, secara logis bisa disimpulkan bahwa jika sesuatu dikecualikan atau dikurangkan, maka itu berasal dari sebuah keseluruhan yang memiliki kuantitas yang lebih besar.

Ini adalah prinsip dasarnya. Meskipun demikian, dalam kekayaan dan kompleksitas bahasa, tentu ada banyak nuansa dan interpretasi yang mungkin muncul.

Pembagian Istisna

Pembahasan ini mengedepankan pembagian berdasarkan mustasna. Intinya, fokus utama adalah pada relasi antara mustasna dengan mustasna minhu. Karena dari berbagai aspek, istisna’ memiliki banyak kategori pembagian.

Hubungan antara mustasna dan mustasna minhu menyebabkan istisna’ dibagi menjadi dua jenis utama: muttashil dan munqathi’. Jenis pembagian ini sering ditemukan dalam literatur Nahwu.

Istisna’ muttashil merujuk pada situasi di mana mustasna merupakan anggota atau bagian dari kelompok (jenis) mustasna minhu. Sebagai contoh: جاءَ التلاميذُ إلاّ عليّاً yang berarti “Semua murid datang kecuali Ali”. Di sini, Ali adalah mustasna dan murid adalah mustasna minhu.

Jika Ali dianggap termasuk dalam jenis murid, maka dikategorikan sebagai muttashil. Penting untuk memahami konsep jenis atau kategori (Jins) dalam konteks ini.

Namun, jika Ali bukan anggota dari jenis murid, maka dikategorikan sebagai istisna’ munqathi’. Secara umum, contoh ini biasanya digunakan untuk mengilustrasikan istisna’ muttashil karena diasumsikan bahwa Ali termasuk dalam jenis murid.

Sebaliknya, istisna’ munqathi’ mengacu pada kasus di mana mustasna bukan merupakan bagian dari jenis mustasna minhu. Contohnya, قَامَ القَوْمُ إلَّا حِمَاراً yang berarti “Kaum berdiri kecuali seekor keledai”.

Dalam hal ini, keledai bukan merupakan bagian dari jenis ‘kaum’, oleh karena itu diklasifikasikan sebagai munqathi’. Para ahli bahasa berpendapat bahwa tujuan dari munqathi’ adalah untuk memberikan informasi tambahan atau klarifikasi.

Jadi, inti dari pembahasan ini adalah relasi antara mustasna dan mustasna minhu. Istilah muttashil dan munqathi’ diambil berdasarkan kategori atau jenis (Jins) dari mustasna dan mustasna minhu. Sebagai contoh, dalam Al-Qur’an, terdapat ayat:

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ

Yang berarti “Maka seluruh malaikat bersujud kecuali Iblis, dia menolak untuk bersujud”. Dari ayat ini, terdapat debat apakah Iblis termasuk dalam jenis malaikat (muttashil) atau bukan (munqathi’). Untuk memahami lebih dalam, Sobat dapat merujuk pada tafsiran Al-Qur’an yang menyediakan berbagai penjelasan menarik mengenai topik ini.

Adawat Istisna

Dalam penjelasan istisna’ yang telah disebutkan sebelumnya, ada istilah yang dikenal dengan “Adawat istisna’” (أَدَوَاتُ الْاِسْتِثْنَاءِ). Kata “Adwat” merupakan bentuk jamak dari “adat” (الأداة), yang berarti alat atau perkakas.

Baca Juga :  Contoh Istisna - Pengecualian yang Membuat Kalimat Berbeda

Oleh karena itu, “adawatul istisna’” dapat diterjemahkan sebagai “alat-alat pengecualian”.

Meskipun ada beragam alat pengecualian, umumnya dikenal ada delapan. Namun, ada pula pendapat yang menyebut lebih dari delapan. Delapan alat istisna’ tersebut antara lain:

  1. إِلاَّ
  2. غَيْرُ
  3. سِوًى
  4. سُوًى
  5. سَواءٌ
  6. خَلَا
  7. عَدَا
  8. حَاشَا

Sebagian orang juga menambahkan لَيْسَ dan لاَ يْكُوْنُ dalam daftar tersebut. Pada dasarnya, semua alat tersebut memiliki makna dasar sebagai pengecualian.

Berdasarkan bentuk kalimat, adawat istisna’ bisa dikelompokkan menjadi tiga:

  1. Kalimat huruf: إِلاَّ
  2. Kalimat isim: غَيْرُ, سِوًى, سُوًى, dan سَواءٌ
  3. Kalimat fi’il: لَيْسَ dan لاَ يْكُوْنُ. Sedangkan yang dapat berfungsi sebagai fi’il atau huruf jar adalah خَلَا, عَدَا, dan حَاشَا.

Status kalimat dari alat pengecualian terakhir ini dapat dikenali dari struktur kalimat di mana mereka digunakan. Untuk memahami lebih lanjut, Sobat bisa merujuk pada pembahasan huruf-huruf jar dalam sumber tertentu.

Contoh Istisna

Dalam pemberian contoh istisna’, variasinya cukup beragam. Beberapa ilustrasi istisna’ yang menggunakan kata ‘illa’ telah diberikan di atas, misalnya:

جاءَ القومُ إلاّ خالداً

جاءَ التلاميذُ إلاّ عليّاً

قَامَ القَوْمُ إلَّا حِمَاراً

Sedangkan dalam Al-Qur’an, beberapa ayat yang menggunakan ‘illa’ sebagai alat istisna’ antara lain:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

I’rob Istisna

Dari perspektif i’rob, istisna’ dapat dikelompokkan berdasarkan alat istisna’, muttashil-munqathi’, serta bentuk kalimatnya.

Apabila menggunakan ‘illa’ (istisna’ dengan illa), maka i’rob dari mustasna adalah sebagai berikut:

  1. Harus dalam bentuk Nashab (manshub) jika berasal dari kalimat yang sempurna dan meminta (tam mujab). Sebagai contoh: جاءَ القومُ إلاّ عليّاً.
  2. Boleh dalam bentuk Nashab atau sebagai badal jika kalimatnya sempurna namun penafian (tam manfi). Contoh: مَا قَامَ القَوْمُ إلَّا زَيْداً (nashab dengan ‘illa’) dan مَا قَامَ القَوْمُ إلَّا زَيْدٌ (dalam bentuk rafa’ karena merupakan badal dari ‘al Qaumu’ berdasarkan i’rob tabi’).
  3. Mengikuti ‘amil (sebab) jika kalimatnya tidak sempurna (naqish). Misalnya: مَا ضَرَبْتُ إلَّا زَيْدًا yang berarti “saya tidak memukul selain Zaid” (dibaca nashab karena ‘amil-nya mengharuskan menjadi maf’ul bih).

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang penjelasan Istisna.

Istisna’ dalam bahasa Arab memiliki peran penting dalam membangun struktur kalimat serta menyampaikan makna yang spesifik.

Konsep ini memungkinkan pengecualian tertentu dalam kalimat, memberikan kedalaman dan nuansa khusus pada pesan yang disampaikan.

Dengan memahami istisna’ dengan baik, kita dapat lebih mendalam memahami teks-teks Arab, khususnya dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits.

Selain itu, pemahaman istisna’ juga membantu kita dalam berkomunikasi dengan lebih efektif dalam bahasa Arab. Sebagai salah satu aspek penting dalam ilmu Nahwu, istisna’ tentunya layak untuk terus dipelajari dan diteliti.

Terimakasih telah membaca artikel Istisna ini, semoga informasi mengenai Istisna ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *