Biografi Syekh Yasin Al-Fadani

Biografi Syekh Yasin Al-Fadani, Mufti Mazhab Syafi’i yang Menginspirasi

Diposting pada

Hasiltani.id – Biografi Syekh Yasin Al-Fadani, Mufti Mazhab Syafi’i yang Menginspirasi. Biografi Syekh Yasin Al-Fadani menjadi penjelasan mendalam mengenai kehidupan dan kepribadian seorang ulama yang begitu dihormati di kalangan umat Islam, khususnya di Mekah.

Dikenal sebagai mufti mazhab Syafi’i, penulis literatur keislaman, dan ulama keturunan Padang, Syekh Yasin Al-Fadani menciptakan warisan ilmiah yang mempesona.

Artikel ini akan menguraikan perjalanan hidupnya, keistimewaan ilmiahnya, serta momen-momen signifikan yang menggambarkan ketakwaan dan kedalaman ilmu yang beliau miliki.

Mari kita telaah secara rinci biografi Syekh Yasin Al-Fadani, ulama besar yang menyinari perjalanan kehidupan umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Biografi Syekh Yasin Al-Fadani

Syekh Yasin al-Faddani, seorang ulama keturunan Padang, menonjol sebagai mufti mazhab Syafi’i di Mekah dan sekaligus seorang penulis yang menghasilkan beberapa karya berharga dalam khazanah keislaman.

Kehidupan Awal

Lahir pada tahun 1335 H./1915 M., Syekh Yasin al-Faddani menunjukkan kegigihan yang luar biasa dalam mengejar ilmu.

Semangatnya dalam menuntut ilmu begitu membara hingga hampir “melupakan” kewajibannya untuk menikah.

Meskipun usianya sudah mendekati kepala empat, hal ini menjadi perhatian orang tua dan rekan sejawatnya.

Riwayat Keluarga

Prestasi dan keilmuannya membuat banyak kalangan elite terpelajar Haramain tertarik menjadikannya menantu.

Namanya yang besar dalam dunia keilmuan membuatnya diinginkan sebagai bagian dari keluarga mereka.

Akhirnya, Syekh Yasin al-Faddani menikah pada usia 40 tahun, meninggalkan seorang istri dan empat putra.

Wafatnya Ulama Besar

Pada tanggal 21 Juli 1990, Syekh Yasin al-Faddani dipanggil untuk menghadap Allah SWT. Kematian ulama hadis yang cemerlang ini menyisakan kekosongan di dunia ilmu.

Kebesaran Allah tampak jelas saat prosesi penguburan, di mana liang lahat yang semula tampak sempit dan lembab, berubah menjadi lapangan luas yang disertai dengan semerbak wewangian harum dan menyegarkan.

Dengan kepulangannya, dunia keislaman kehilangan salah satu sumber rujukan ilmu yang sangat dihormati.

Warisan intelektual Syekh Yasin al-Faddani tetap hidup melalui karyanya, mewarnai khazanah keislaman dengan pengetahuan yang berharga.

Sanad Ilmu dan Pendidikan Syekh Yasin Al-Faddani

Mengembara Menuntut Ilmu

Syekh Yasin Al-Faddani memulai perjalanan ilmunya bersama ayahnya, Syekh Muhammad Isa.

Perjalanan ini dilanjutkan ke Ash-Shautiyyah, di mana ia belajar dari beberapa guru terkemuka, antara lain Syekh Muhtak Usman, Syekh Hasan Al-Masysath, dan Habib Muhsin bin Ali Al-Musawa.

Pada tahun 1934, terjadi konflik nasionalisme yang melibatkan beberapa pelajar asal Asia Tenggara di Ash-Shautiyyah, terutama dari Indonesia.

Akibatnya, Syekh Yasin Al-Faddani mengusulkan pendirian Madrasah Darul Ulum di Mekkah sebagai respons terhadap situasi tersebut.

Meskipun baru didirikan, madrasah ini langsung menarik perhatian pelajar Ash-Shautiyyah, yang berpindah ke sana.

Syekh Yasin kemudian diangkat sebagai wakil direktur Madrasah Darul Ulum Mekkah, sambil mengajar di berbagai tempat, terutama di Masjidil Haram.

Materi Pendidikan dan Pengakuan

Materi-materi yang diajarkan oleh Syekh Yasin mendapat sambutan luar biasa, khususnya dari para pelajar asal Asia Tenggara.

Selain itu, ia dikenal sebagai sosok ulama yang sering meminta Ijazah dari ulama-ulama terkemuka, menjadikannya memiliki sanad ilmu yang sangat luas.

Baca Juga :  Amalan Doa untuk Bisa Tinggal di Istana Wali Qutub di Alam Kubur

Kedalaman ilmunya membuatnya dijuluki sebagai “Gudang Sanad Dunia Abad ke-20” atau Musnid ad-Dunya.

Gelar lain yang melekat padanya adalah Bahr al-’Ulum (samudra ilmu), yang merujuk pada keberlimpahan sanadnya dalam bidang hadis.

Gelar-gelar tersebut tidak diberikan secara sembarangan, melainkan sebagai pengakuan atas kontribusi dan keilmuan yang dimiliki oleh Syekh Yasin Al-Faddani.

Guru-Guru Terhormat

Guru-guru yang memberikan ilmu pada Syekh Yasin Al-Faddani juga patut dicatat. Antara lain:

  • Syekh Muhammad Isa
  • Syekh Muhtak Usman
  • Syekh Hasan Al-Masysath
  • Habib Muhsin bin Ali Al-Musawa
  • Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi
  • Syekh Muhammad Ali Husain al-Maliki
  • Syekh ‘Umar Bajunaid (Mufti Syafi’iyyah Makkah)
  • Syekh Sa’id bin Muhammad al-Yamani
  • Syekh Hasan al-Yamani
  • Syekh Muhsin ibn ‘Ali al-Falimbani al-Maliki
  • Sayid ‘Alwi bin ‘Abas al-Maliki al-Makki
  • Syaikh Khalifah an-Nabhani.

Madrasah Darul-Ulum

Syekh Yasin Al-Faddani tidak hanya menjadi pemimpin dan pendiri Madrasah Darul-Ulum, tetapi juga menjadi murid pertama dari madrasah tersebut.

Ide berdirinya madrasah muncul sebagai respons terhadap perlakuan kurang menghormati dari direktur Ash-Shautiyyah terhadap pelajar Asia Tenggara, khususnya Indonesia, yang akhirnya berpindah ke Madrasah Darul Ulum.

Sejarah tersebut menjadikan Madrasah Darul-Ulum sebagai tempat yang dihormati, dengan jumlah murid yang sangat besar pada masa pendiriannya pada tahun 1934.

Penerus dan Murid-Murid Syekh Yasin Al-Faddani

Putera-Puteri Beliau:

Syekh Yasin Al-Faddani memiliki putera-puteri yang melanjutkan jejak keilmuannya, antara lain:

  1. Muhammad Nur ‘Arafah Yasin Al Fadani
  2. Fahad Yasin Al Fadani
  3. Ridha Yasin Al Fadani
  4. Nizar Yasin Al Fadani

Murid-Murid Beliau:

Syekh Yasin Al-Faddani dikenal sebagai ulama yang mampu mencetak murid-murid berbakat dan cinta ilmu. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Syeikh Muhammad Ismail Zain Al Makky Al-Yamany
  2. Abuya Prof.DR. Muhammad bin Alwy Al Maliky
  3. Syeikh Muhammad Mukhtaruddin Al falimbany
  4. Syeikh Muhammad Hamid Amin Al Banjar
  5. Habib Umar bin Muhammad Hafidz Tarim
  6. Syeikh Muhammad Hamid Al Kaf Makkah
  7. Syeikh Ahmad Damanhury Al Bantany
  8. KH. Abdul Hamid Ad Dary
  9. Syeikh Ahmad Muhajirin Ad Dari Bekasi
  10. T.G.H.Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Ijai) Martapura
  11. Hadratus Syeikh Muallim K.H. M. Syafi Hazdamy
  12. DR. Burhanuddin Umar Lubis
  13. KH. Maimoen Zubair (Rembang)
  14. KH. Hasan Azhari
  15. KH. Sahal Mahfudz (Pati, Jateng)
  16. KH. DR. Abdul Munith Abdul Fattah
  17. KH. Zayady Muhajir
  18. KH. Ahmad Junaidy
  19. KH. Idham Khalid
  20. KH. Thahir Rahili
  21. DR. Muslim Nasution
  22. KH. Yusuf Hasyim Asy `ary
  23. Prof. DR. Sayyid Agil Husain Al Munawwar
  24. Prof.DR. Abuya Muhibbudin Waly Al Khalidi
  25. Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu Al Banjary
  26. DR. Yahya Al Ghaustany
  27. Syeikh Sayyid Abdullah Shiddiq Al Ghumary
  28. Syeikh Abdus Subhan Al Barmawy
  29. Syeikh Abdul Fattah Rawah
  30. Syeikh DR. Ali Jum`ah (Mufti Mesir)
  31. Syeikh Muhammad Ali As-Shabuny (Damaskus)
  32. DR. Muhammad Hasan Ad Daimyahty
  33. Syeikh Hasan Al Qathirji
  34. Tuan Guru Haji Abdullah bin Abdul Rahman (Pondok Lubuk Tapah, Kelantan)
  35. Tuan Guru Haji Hashim bin Haji Abu Bakar (Pondok Pasir Tumboh, Kelantan)
  36. KH. Ahmad Muthohar (Mranggen, Demak)
  37. KH. Syafi’i Hadzami

Karya-karya Ulama Besar, Syekh Yasin Al-Faddani

Syekh Yasin Al-Faddani meninggalkan warisan ilmiah yang sangat berharga melalui lebih dari 97 kitab yang ia tulis.

Karya-karyanya mencakup berbagai bidang ilmu, dan jumlahnya terbagi sebagai berikut:

1. Ilmu Hadits (9 Kitab):

  • Al-Durr al-Mandlud Syarh Sunan Abi Dawud, 20 Juz
  • Fath al-‘Allam Syarh Bulugh al-Maram, 4 jilid
  • Nayl al-Ma’mul ‘ala Lubb al-Ushul wa Ghayah al-wushul
  • Al-Fawaid al-Janiyyah Ala Qawa’idil Al-Fiqhiyah
  • Jam’u al-Jawani
  • Bulghah al-Musytaq fi ‘Ilm al-Isytiqaq
  • Idha-ah an-Nur al-Lami’ Syarh al-Kaukab as-Sathi’
  • Hasyiyah ‘ala al-Asybah wan an-Nazhair
  • Ad-Durr an-Nadhid

2. Ilmu dan Ushul Fiqih (25 Kitab):

  • Bulghyah al-Musytaq Syarh al-Luma’ Abi Ishaq
  • Tatmim ad-Dukhul Ta’liqat ‘ala Makhdal al-Wushul ila ‘Ilm al-Ushul
  • Nayl al-Ma’mul Hasyiyah ‘ala Lubb al-Ushul wa syarhih Ghayah al-Wushul
  • Manhal al-Ifadah
  • Al-Fawaid al-Janiyyah Hasyiyah ‘ala al-Qawaid al-Fiqhiyyah
  • Janiyy ats-Tsamar Syarh Manzhumah Manazil al-Qamar
  • Mukhtashar al-Muhadzdzab fi Istikhraj al-Awqat wa al-Qabilah bi ar-Rubi’i al-Mujib
Baca Juga :  Penjelasan Dzikir Ya Basith, Cara Mengamalkan serta Keutamaannya

3. Ilmu Falak (36 Kitab):

  • Al-Mawahib al-Jazilah syarh Tsamrah al-Washilah fi al-Falaki
  • Tastnif al-Sami’i Mukhtashar fi Ilmi al-Wadh’i
  • Husn ash-Shiyaghah syarh kitab Durus al-Balaghah
  • Risalah fi al-Mantiq
  • Ithaf al-Khallan Tawdhih Tuhfah al-Ikhwan fi ‘Ilm al-Bayan
  • Ar-Risalah al-Bayaniyyah ‘ala Thariqah as-Sual wa al-Jawab
  • Al-Ujalah fi al-Ahadith al-Musalsalah

Karya-karyanya menjadi rujukan utama di berbagai lembaga Islam dan pondok pesantren, baik di Mekkah maupun di Asia Tenggara.

Dengan susunan bahasa yang tinggi, sistematika yang jelas, dan isinya yang padat, karya-karya Syekh Yasin Al-Faddani terus digunakan oleh para ulama dan pelajar sebagai sumber referensi yang berharga.

Kisah Teladan: Sosok Sederhana dan Tawadu

Sosok Sederhana

Syekh Yasin Al-Fadani, meskipun merupakan seorang ulama besar, menonjol dengan kesederhanaannya.

Beliau tidak enggan turun ke pasar, memikul beban sayur-mayur, dan mengenakan kaos oblong serta sarung. Sering kali, Syekh Yasin ditemui di warung teh sambil menikmati Shisah (rokok Arab).

Keberadaannya yang demikian tak pernah dicela, karena keilmuannya yang tinggi memberikan kekaguman dan penghargaan.

Di musim haji, Syekh Yasin mengundang ulama-ulama dan pelajar dari seluruh dunia untuk berkunjung ke rumahnya dan berdiskusi.

Banyak ulama yang memohon Ijazah Sanad hadis dari beliau. Bahkan di luar musim haji, rumah Syekh Yasin selalu ramai dikunjungi para ulama dan pelajar yang haus akan ilmu.

Keseharian Syekh Yasin diungkapkan oleh Kiai Sukarnawadi H. Husnuddu’at, “Syekh Yasin orangnya santai, sederhana, tidak menonjolkan diri, sering tampil dengan kaos biasa dan sarung, dan suka nongkrong di ‘Gahwaji’ untuk Nyisyah (menghisap rokok Arab).

Tak seorang pun berani mencela beliau karena kekayaan ilmu yang dimilikinya.”

Tawadu dan Alim

Syekh Yasin sering melakukan kunjungan ke berbagai negara, khususnya di Indonesia. Banyak ulama yang ingin menjadi muridnya dan meminta ijazah sanad hadis.

Namun, terdapat satu peristiwa menarik ketika KH. Syafi’i Hadzmi ingin menjadi murid Syekh Yasin.

Meskipun dia menolak untuk diangkat sebagai murid, bukan karena tidak menyukainya, tetapi karena Syekh Yasin menganggap bahwa dirinya yang seharusnya menjadi murid KH. Syafi’i Hadzmi.

Syekh Yasin menghargai kedalaman ilmu yang dimiliki oleh KH. Syafi’i Hadzmi dan menyatakan bahwa dirinya tidak pantas menjadi guru bagi beliau.

KH. Syafi’i Hadzmi dikenal sebagai ulama Indonesia yang memiliki keluasan ilmu dan kekaguman di Mekkah.

Dengan sikap tawadu dan penuh penghargaan terhadap para ahli ilmu, Syekh Yasin Al-Fadani memberikan teladan tentang kesederhanaan dan kerendahan hati, menjadikannya sosok yang sangat dihormati di kalangan ulama dan pelajar.

Karomah

Menguji Kewalian Syekh Yasin Al-Faddani

Kisah ini mencerminkan sebuah momen ketika seorang santri iseng mencoba menguji keistimewaan Syekh Yasin Al-Faddani, seorang ulama terkemuka di Mekah.

Cerita ini berasal dari kenangan Kiai Zakwan Abdul Hamid, seorang santri yang memiliki ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak tentang gurunya.

Pada suatu hari, Zakwan memiliki niat iseng untuk menguji kebenaran tentang keistimewaan Syekh Yasin Al-Faddani.

Ulama asal Padang ini memiliki popularitas yang besar di Mekah, dengan banyak murid yang datang dari berbagai penjuru.

Kejadian ini berlangsung di kediaman Syekh Yasin pada hari Jumat, di mana beliau biasa melaksanakan sholat Jumat di masjid terdekat, bukan di Masjidil Haram.

Dengan niat usil, Zakwan berusaha membuat Syekh Yasin terlambat sholat Jumat. Mereka berbincang-bincang hingga mengabaikan adzan yang menandakan dimulainya sholat Jumat.

Baca Juga :  Mengungkap Khasiat dan Cara Mengamalkan Hizib Sakron

Teman Zakwan dengan sengaja memperlambat waktu hingga khutbah kedua. Zakwan dan temannya kemudian berlari ke masjid, yakin bahwa Syekh Yasin tidak mungkin sholat Jumat karena jarak yang cukup jauh.

Sambil berfikir bahwa gurunya tidak jumatan, Zakwan dan temannya berhasil sholat Jumat.

Namun, begitu mereka sampai di rumah, mereka bertemu dengan Syekh Yasin yang terlihat bahagia, tanpa merasa bersalah atas keterlambatannya. Kedua santri itu tertawa geli.

Beberapa saat kemudian, Syekh Yasin memanggil Zakwan dan meminta agar teh disiapkan karena ada tamu yang akan datang.

Zakwan heran, bagaimana Syekh Yasin tahu akan kedatangan tamu tanpa diketahui sebelumnya. Tanpa banyak pikir, Zakwan mempersiapkan apa yang diminta oleh gurunya.

Tak lama berselang, dua orang Arab datang. Mereka diperbolehkan duduk dan menikmati hidangan yang disediakan.

Zakwan kemudian mendengar bahwa salah satu tamu mengatakan bahwa setelah sholat Jumat di Masjidil Haram, masih ada satu hadis yang belum diijazahkan oleh Syekh Yasin.

Sedangkan yang satu lagi, Syekh Yasin berjanji akan mengijazahkan semuanya di rumah.

Mendengar percakapan itu, Zakwan terkejut. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, “Bukankah tadi Syekh Yasin tidak berangkat sholat Jumat?

Bagaimana mungkin beliau sampai di Masjidil Haram jika khutbah sudah masuk sesi kedua di Utaibiyyah?”.

Tidak lama kemudian, Syekh Yasin masuk ke kamarnya. Zakwan akhirnya memberanikan diri bertanya kepada tamu-tamu gurunya, “Apakah benar kalian bertemu Syekh di Masjidil Haram?”.

Salah satu dari mereka menjawab, “Betul, tadi kami melihat beliau duduk bersandar di tiang dekat Babul Shofā.”

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Zakwan yakin bahwa gurunya adalah seorang waliyullah yang istimewa.

Memberi Petunjuk KH. Hamid dari Mekkah

Kisah lain yang mencerminkan keistimewaan Syekh Yasin Al-Faddani adalah ketika KH. Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar ilmu fiqih “bab diyat”.

Beliau mengalami kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajiannya terhenti. Pada malam hari, KH. Abdul Hamid menerima surat dari Syekh Yasin yang berisi jawaban atas kesulitan yang dihadapinya.

KH. Abdul Hamid merasa heran, karena tidak pernah bertanya kepada siapapun tentang kesulitan tersebut.

Dengan kebijaksanaan dan keistimewaan ilmunya, Syekh Yasin memberikan petunjuk yang dibutuhkan tanpa diminta.

Kisah-kisah ini menunjukkan betapa luar biasa keilmuan dan spiritualitas Syekh Yasin Al-Faddani, yang mendapat penghargaan dan kepercayaan dari para santri dan ulama di berbagai penjuru.

Penutup

Demikianlah informasi dari Hasiltani.id tentang Biografi Syekh Yasin Al-Fadani.

Biografi Syekh Yasin Al-Fadani menjadi sumber inspirasi yang tak terhingga bagi generasi umat Islam.

Melalui perjalanan hidupnya yang penuh dedikasi dalam menuntut ilmu, keteguhan dalam menjalankan tugas keilmuannya, hingga keistimewaan spiritual yang memancar dari hatinya, Syekh Yasin telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan.

Semangat belajar, kerendahan hati, dan rasa tawadhu yang beliau tunjukkan menjadi teladan berharga bagi setiap pencari ilmu dan pengamal agama.

Biografi Syekh Yasin Al-Fadani membuka pintu ke kearifan dan pemahaman Islam yang dalam, mengajak kita untuk merenung, belajar, dan menggali makna sejati dari ajaran agama.

Semoga kisah hidup ulama besar ini tetap menginspirasi dan mewarnai perjalanan spiritual umat Islam di masa kini dan masa yang akan datang.

Dengan mengenang perjalanan hidup dan kontribusi ilmiah Syekh Yasin Al-Fadani, kita merayakan warisan keislaman yang kaya, yang terus menjadi sumber cahaya pencerahan bagi umat Islam di seluruh dunia.

Terimakasih telah membaca artikel Biografi Syekh Yasin Al-Fadani ini, semoga informasi mengenai Biografi Syekh Yasin Al-Fadani ini bermanfaat untuk Sobat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *